PT Garuda Indonesia Tbk misalnya, menilai bahwa tarif ojek online lebih mahal dibanding harga tiket pesawat kelas ekonomi. Plt Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal pun menjelaskan maksudnya.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 27 Desember 2019 - 15:13 WIB
WowKeren - Masyarakat hingga kini masih merasa terbebani dengan tingginya tiket pesawat. Terutama harga tiket yang kerap meningkat drastis di musim liburan.
Pihak maskapai justru mengeluhkan hal yang sebaliknya. PT Garuda Indonesia Tbk misalnya, menilai bahwa tarif ojek online atau ojol lebih mahal dibanding harga tiket pesawat kelas ekonomi.
Menurut Plt Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal, tarif batas atas (TBA) masing-masing transportasi umum untuk pesawat kelas ekonomi sudah berada di bawah ojol apabila dilihat dari regulasinya. "Ini bisa dilihat sendiri TBA masing-masing transportasi. Kalau pesawat yang diatur itu kelas ekonomi," tutur Fuad di Kantor Garuda Indonesia, Tangerang, pada Jumat (27/12).
Fuad lantas menjelaskan bahwa TBA pesawat full service carier (FSC) rata-rata sebesar Rp 2.500/km per penumpang. Sementara TBA ojol ditetapkan Rp 2.600/km per penumpang.
"Kalau dibandingin tarif ojek online sudah Rp 2.600, kemudian untuk taksi sudah Rp 6.500 (per km per penumpang)," terang Fuad. "Jadi biar mengerti semua, memang secara industri tarif penerbangan di Indonesia sudah sangat murah."
Hal ini membuat Garuda Indonesia menentukan harga tarif tiketnya di level paling atas ketentuan TBA. Saat ini, rata-rata tarif tiket pesawat Garuda Indonesia berada di 85 persen TBA, sedangkan rata-rata tarif tiket pesawat berada di 70 persen TBA.
"Dari 2016 Garuda hanya menjual 60 persen dari tarif range-nya. Citilink 30 persen di bawah," jelas Fuad. "Sehingga secara rata-rata Garuda kenaikan harganya 25 persen, Citilink 40 persen setiap tahunnya."
Lebih lanjut, Fuad menilai bahwa industri penerbangan sangat tidak sehat pada 2016 dan 2017. Pasalnya, meskipun jumlah penumpang naik, maskapai harus rela berdarah-darah karena hanya menjual tiket sebesar 60 persen dari TBA.
"Dari sisi harga industrinya sudah tidak sustain sama sekali. Industrinya bisa rusak sendiri dan mati," pungkas Fuad. "Sudah lebih dari 15 airlines yang mati dalam 10 tahun karena kompetisinya tidak sehat."
(wk/Bert)