Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menjelaskan konsep operasi MALE memungkinkan untuk melakukan pengawasan dalam menjaga kedaulatan NKRI.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 31 Desember 2019 - 11:46 WIB
WowKeren - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah melakukan inovasi dalam bidang pertahanan. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau drone, tipe Medium Altitude Long Endurance (MALE).
Wahana ini diklaim mampu terbang tanpa henti selama 24 jam. Konsep operasinya memungkinkan untuk pengawasan dalam menjaga kedaulatan NKRI melalui pantauan udara.
Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Kepala BPPT Hammam Riza. Karena drone ini mampu dioperasikan tanpa awak, maka penjagaan semacam ini dinilai lebih efisien karena mampu meminimalisir risiko kehilangan jiwa. "Pesawat Tanpa Awak MALE ini hasil rancang bangun, rekayasa dan produksi anak bangsa," kata Hammam dalam siaran pers Senin (30/12).
Adapun pengoperasian pesawat tanpa awak ini menyusul seiring meningkatkan ancaman yang terjadi di daerah perbatasan. Beberapa ancaman itu di antaranya terorisme, penyelundupan, pembajakan, hingga pencurian sumber daya alam. Drone ini diklaim selain memiliki daya angkut yang lebih besar juga mempunyai jangkauan terbang yang cukup jauh.
"Kebutuhan pengawasan dari udara yang efisien dan kemampuan muatan (payload) yang lebih besar," lanjut Hammam. "Dan jangkauan radius terbang yang jauh secara continue menjadi kebutuhan yang harus diantisipasi."
Adapun inisiasi pengembangan drone ini sudah dimulai sejak 2015 oleh Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemhan). "Proses perancangan dimulai dengan kegiatan preliminary design, basic design dengan pembuatan dua kali model terowongan angin dan hasil uji nya di tahun 2016 dan tahun 2018," kata Hammam.
Lalu kemudian proses dilanjutkan dengan pembuatan engineering document dan drawing tahun 2017 melalui anggaran dari Balitbang Kemhan dan BPPT. Hingga pada 2019 dimulai lah tahap manufacturing. Pada 2020 mendatang rencananya akan dilakukan pengadaan Flight Control System (FCS) yang diproduksi di Spanyol.
(wk/zodi)