Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pagi ini (31/12) setelah 3 hari berturut-turut. Menurut pantauan PVMGB gunung api yang terletak di tengah Selat Sunda ini menyemburkan abu vulkanik mencapai 1.000 meter.
- Nidya Putri
- Selasa, 31 Desember 2019 - 12:23 WIB
WowKeren - Gunung Anak Krakatau telah mengalami erupsi dengan intensitas berbeda selama 3 hari berturut-turut. Erupsi pertama terjadi pada Minggu (29/12) dengan mengeluarkan letusan dengan tinggi 200 meter.
Hingga pagi tadi (31/12), Gunung yang terletak di tengah Selat Sunda ini kembali erupsi pada pukul 06.51 WIB. Gunung api yang masih aktif tersebut menyemburkan abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 1.157 meter di atas permukaan laut.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah selatan," tulis laporan yang diterbitkan Badan Geologi pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMGB) di laman resmi mereka.
Erupsi Anak Krakatau sendiri telah terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 41 mn dengan durasi 1 menit 33 detik. Meski begitu, tak terdengar suara dentuman akibat erupsi tersebut.
"Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi: masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah," tulis laporan itu.
Sementara itu, menurut laporan dari Pos Pengamatan Pasauran Gunung Api Krakatau mencatat, sejak pukul 00-00 hingga 06.00 WIB tadi gunung api dengan ketinggian 157 mdpl tersebut mengalami letusan sebanyak 3 kali dengan amplitudo 40-43 mn dengan durasi 40-64 detik.
Sejak erupsi pertama yang terjadi pada Minggu (29/12), Penanggung jawab pos pantau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Andi Suardi meminta agar para warga, nelayan maupun wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 2 kilometer.
Sebelumnya, aktivitas Gunung Anak Krakatau terakhir tercatat pada 27 Oktober 2019 lalu. Saat itu Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami letusan dengan asap berwarna putih, kelabu dan hitam selama tiga hari. Sementara itu, ketinggian kepulan asap sekitar 100 hingga 200 meter dari dasar kawah. Gunung Anak Krakatau sendiri diketahui pernah mengalami erupsi yang masif pada bulan Desember 2018 lalu.
Erupsi tersebut menyebabkan sebagian badan gunung longsor ke laut. Hal tersebut memicu gelombang tsunami yang menghantam pesisir Kalianda dan Pandeglang. Akibatnya, ratusan orang dikabarkan tewas akibat bencana tsunami tersebut. Erupsi tersebut menyebabkan berkurangnya tinggi Gunung Anak Krakatau. Sebelumnya, gunung tersebut memiliki tinggi 310 mdpl. Namun, saat ini Anak Krakatau hanya setinggi 157 mdpl.
(wk/nidy)