Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno, menjelaskan bahwa harga di level petani anjlok sejak akhir tahun 2019, karena adanya ancaman hasil produksi mereka tak terserap industri.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 03 Januari 2020 - 14:51 WIB
WowKeren - Petani tembakau mengeluh dengan adanya kenaikan cukai rokok dan juga harga jual eceran mulai tahun 2020 ini. Para petani khawaatir pabrik rokok akan menurunkan produksinya akibat kenaikan cukai.
Apabila hal tersebut terjadi, otomatis serapan tembakau oleh industri pun akan ikut berkurang. Harga tembakau di level petani anjlok sejak akhir tahun 2019, karena adanya ancaman hasil produksi mereka tak terserap industri.
"(Harga anjlok) di pasar itu kemarin rata-rata 20 persen," jelas Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno dilansir detikcom pada Jumat (3/1). "Jadi petani panennya bagus sih, kualitas bagus tapi mereka mengeluh."
Harga normal tembakau sendiri berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogramnya. "Baru isu saja perdagangan tata niaga tembakau sudah dimainkan pedagang. Ini (katanya) tahun depan (2020) ucapannya begitu, ini tahun depan pabrikan beli sedikit nih petani nanti enggak terbeli, ya sudah harga tergoncang di bawah jatuh," ujar Soeseno.
Menurut Soeseno, petani tembakau sebenarnya telah menyampaikan aspirasi mereka terkait rencana kenaikan cukai rokok ini sejak tahun lalu. Sayangnya, pemerintah tetap menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen.
"Madura demo beberapa kali, di Jember itu harganya nggak bisa naik lagi. Ya sebenarnya itu bukan pada tingkat pabrikan lah. Pada tingkat pedagang," pungkas Soeseno.
Sementara itu, kenaikan harga rokok ini telah diterapkan sejak 1 Januari 2020. Para perokok pun merasakan kenaikan harga ini.
Menurut Usman, seorang driver ojek online, kenaikan cukai rokok cukup membebaninya. Pasalnya, adanya kenaikan harga rokok ini cukup mempengaruhi kantongnya padahal Usman sendiri biasa menghabiskan dua bungkus rokok Sampoerna Mild perharinya.
"Ya gede ya katanya bisa rokok Rp 20 ribu jadi Rp 30-35 ribu ya berasa buat kantong saya," ujar Usman dilansir detikcom, Rabu (1/1). "Saya biasa habisin Rp 40 ribuan sehari buat rokok, kalau naik begitu bisa Rp 60 ribuan dong, gila juga naiknya."
(wk/Bert)