Mantan Menteri Urusan Peranan Wanita era Presiden Soeharto, Mien Sugandhi, menghembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, pada Minggu (5/1) sekitar pukul 21.50 WIB.
- Bertilia Puteri
- Senin, 06 Januari 2020 - 11:10 WIB
WowKeren - Kabar duka kembali menyelimuti Tanah Air. Mantan Menteri Urusan Peranan Wanita era Presiden Soeharto, Mien Sugandhi, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (5/1) malam.
Mendiang Mien menghembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, sekitar pukul 21.50 WIB. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, pun membenarkan kabar tersebut.
"Ya, saya mendapatkan kabar meninggalnya Ibu Hj Mien Sugandhi, mantan Menteri Peranan Wanita RI," tutur Ace dilansir Kompas.com pada Senin (6/1). "Dan istri dari Mayjen (Purn) Soegandhi, pendiri MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong), salah satu Kino Golkar."
Ace lantas menyampaikan ucapan bela sungkawa atas kepergian Mien mewakili Partai Golkar. "Partai Golkar berbelasungkawa atas wafatnya Ibu Mien Sugandhi. Semoga amal kebaikannya diterima di sisi Tuhan YME," ujar Ace.
Wanita bernama lengkap Siti Aminah Sugandhi tersebut wafat di usia 85 tahun. Mien yang juga merupakan politisi Partai Golkar itu diketahu menjabat sebagai Menteri Urusan Peranan Wanita mulai tahun 1993 hingga 1998. Ia juga sempat duduk di kursi DPR RI mulai tahun 1977 hingga 1993.
Dilansir Tribunnews, Mien sendiri dikenang sebagai sosok yang kritis, pemberani, dengan gaya bicara yang meledak-ledak dan kontroversial. Mien bahkan sempat berseteru dengan Ketua Yayasan Putri Indonesia, Mooryati Sudibyo, pada 1996 silam. Alasannya, Yayasan Putri Indonesia mengirimkan wakil ke ajang Miss Universe secara diam-diam.
Mien yang merasa kecolongan pun sempat mengancam akan memanggil Yayasan Putri Indonesia ke DPR. Menurut pandangan Mien, ajang Miss Universe lebih dominan mengeksploitasi kemolekan fisik wanita dibanding sisi-sisi kompetisi aspek edukasinya.
Selain itu, Mien juga sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang istri Presiden Soekarno, Ratna Sari Dewi. Hal ini dipicu oleh buku bertajuk "Madame de Syuga" yang memuat foto telanjang Dewi.
"Tindakan Dewi sangat memalukan dan menyinggung harga diri wanita Indonesia. Itu jelas-jelas bukan menunjukkan citra wanita Indonesia," tutur Mien dilansir Tempo edisi 20 November 1993. "Silakan saja kalau Dewi mau keluar dari kewarganegaraan Indonesia."
(wk/Bert)