Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan bahwa untuk merealisasikan penerbangan perintis sepanjang 2020 ini, pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar Rp 500 miliar.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 09 Januari 2020 - 18:38 WIB
WowKeren - Pemerintah RI melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan penandatanganan kontrak penerbangan perintis dengan lima maskapai. Penerbangan perintis ini dibuka untuk menjangkau daerah terpencil, terluar, dan tertinggal, khususnya di bagian Indonesia timur.
Untuk penerbangan tersebut, pemerintah telah menyiapkan 188 rute. Tak cukup sampai di situ, pemerintah juga akan memberikan subsidi untuk penerbangan tersebut. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Maria Kristi Endah Murni.
Dengan begitu, Maria mengatakan bahwa penumpang nantinya hanya perlu membayar 30 persen saja dari harga tiket pesawat. "Kalau penumpang tetap bayar juga, cuma ada subsidinya. Jadi dia hanya bayar 30 persen dari total harga. Misalnya harga Rp 500 ribu jadi cuma Rp 100-an ribu lebih," kata Maria di Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Kamis (9/1).
Sementara itu, subsidi untuk angkutan kargo akan diberikan sepenuhnya. Dengan kata lain, angkutan kargo pada penerbangan perintis tidak dipungut biaya. "Angkutannya yang gratis kalau kargo," ujar Maria.
Sementara itu, Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan bahwa untuk merealisasikan penerbangan perintis ini, pemerintah telah menggelontorkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk sepanjang 2020 ini. "Anggarannya Rp 500 miliar hingga akhir tahun, itu untuk kargo dan penumpang," kata Polana.
Untuk penerbangan perintis kargo pemerintah telah menyiapkan 27 rute. Sejumlah maskapai yang akan melayani rute penerbangan perintis ini antara lain Susi Air, Dimonim Air, dan Trigana Air Service. Ada pula operator baru seperti Smart Cakrawala dan Asian One.
"Kalau angkutan udara perintis penumpang ada 188 rute," ujar Polana. "Lalu yang kargo ada 27 rute di Sulawesi, Kalimantan, dan Papua."
(wk/zodi)