Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menyebut bahwa yang diusulkan naik adalah tarif ojol di zona Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 08 Februari 2020 - 19:05 WIB
WowKeren - Tarif ojek online di zona Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) diusulkan untuk kembali mengalami kenaikan. Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menyebut bahwa tarif ojol di daerah lain belum perlu naik.
"Nampaknya yang butuh kenaikan hanya Jabodetabek," tutur Budi di Kantor Kemenhub pada Jumat (7/2). "Untuk daerah nampaknya enggak naik, tarif mereka nampaknya masih feasible."
Menanggapi rencana ini, pengamat transportasi Djoko Setijowarno pun angkat bicara. Djoko menilai kenaikan tarif ini dapat berpotensi mengurangi jumlah penumpang. Pasalnya, masyarakat yang selama ini menggunakan ojol dapat membandingkan harganya dengan tarif angkutan umum lain.
"Kalau tarif naik itu kan sensitif, masa naik terus," terang Djoko dilansir detikcom pada Sabtu (8/2). "Apalagi sekarang angkutan umum sudah mulai banyak, ini bisa jadi hambatan untuk perkembangan ojol."
Lebih lanjut, Djoko menilai bahwa angkutan umum kini semakin beragam jenisnya dan bisa membuat masyarakat beralih. Sebut saja bus gratis, bus TransJakarta, bus antar kota, kereta commuter line, MRT hingga LRT.
"Memang angkutan umum ini ya perlu waktu yang lebih banyak, tapi jauh lebih murah dan nyaman," ujar Djoko. "Jadi harusnya kenaikan ini juga memiliki pertimbangan lain."
Sebelumnya, Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Ahmad Yani mengungkapkan bahwa para driver ojol meminta tarif batas bawah dinaikkan menjadi Rp 2.500/km. Awalnya, tarif batas bawah ojol adalah Rp 2.000/km.
Yani sendiri mengaku masih akan membahas usulan tarif tersebut dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Pasalnya, kenaikan tarif ojol ini berkaitan langsung dengan kemampuan masyarakat untuk membayar.
"Tapi Rp 2.500 belum didiskusikan ke YLKI," jelas Yani. "Karena mereka yang lihat dari sisi masyarakat, sehingga ada titik temunya."
Menurut Yani, hal yang dikhawatirkan dari kenaikan tarif ini adalah penumpang yang bisa-bisa meninggalkan ojol. "Masalahnya kalau naik sekian aja, bisa aja ada perpindahan dari ojek online. Yang jelas kita mau supaya titik temu pas," pungkas Yani.
(wk/Bert)