Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono akan meminta Jamaah Muslim Geografi (JMG) UGM untuk tidak berbuat hal-hal yang bisa memicu interpretasi lain di masyarakat.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 12 Februari 2020 - 16:59 WIB
WowKeren - Foto mahasiswi pengurus Jamaah Muslim Geografi (JMG) Universitas Gadjah Mada di akun Twitter @JMG_UGM tengah ramai dibicarakan di jagat media sosial. Pasalnya dalam postingan tersebut, foto mahasiswi yang menjadi pengurus JMG UGM diblur sehingga menjadi tidak jelas. Sedangkan di lain sisi, foto pengurus laki-laki tetap dibiarkan apa adanya.
Terkait hal ini, Rektor UGM Panut Mulyono akhirnya angkat bicara. Ia akan meminta JMG untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memicu polemik di tengah publik. "Nanti, saya imbau ke JMG, jangan membuat sesuatu yang membuat orang lain bisa mempunyai pikiran yang berbeda," kata Panut dilansir detikcom, Rabu (12/2).
Meski demikian, Panut yakin bahwa sebenarnya para pengurus JMG tidak bermaksud memicu polemik terkait foto tersebut. Namun, Panut tetap menekankan untuk tidak memburamkan foto perempuan pada struktur kepengurusan organisasi.
Ia meminta agar mahasiswa tidak bermain-main dengan pengeditan foto semacam itu karena hal ini bersifat sensitif yang menyangkut kesetaraan gender. "Karena kita menegakkan kesetaraan gender. Jangan main-main lah dengan foto," tegas Panut.
Sebab, meskipun para mahasiswa dan mahasiswi pengurus organisasi tidak bermaksud apa-apa, namun belum tentu halnya dengan orang lain. Bisa jadi pengeditan foto itu menimbulkan tafsir yang lain.
"Tidak boleh. Jelas, kalau dari saya, jangan membuat sesuatu yang bisa menimbulkan interpretasi lain dari pihak-pihak lain," sebut Panut. "Saya akan nasihati begitu ke mahasiswa dan mahasiswi JMG."
Sementara itu, foto yang menuai polemik tersebut telah dihapus. "Sampai sekarang, mereka sudah menindaklanjuti lebih bagus. Daripada itu membuat resah dan gundah, (foto blur) itu ditiadakan," ujar Dekan Fakultas Geografi UGM, Muh Aris Marfai masih dilansir detikcom.
Aris menjamin bahwa pemburaman foto mahasiswi tidak ada kaitannya dengan aktivitas radikalisme apapun. "Bahkan, ada yang mengaitkan dengan radikalisme. Namun, saya nyatakan dan saya garansi, tidak ada aktivitas sempit seperti itu di Fakultas Geografi," tegas Aris.
(wk/zodi)