Guru SMAN 12 Bekasi yang Pukul Murid Terlambat Dibela Siswa, Sekolah Jadi Pihak Netral
Nasional

Seorang guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SMAN 12 Bekasi berinisial I telah dicopot dari jabatannya. Meski begitu, para siswa berniat membelanya dengan membuat petisi berjudul 'Jangan Mutasi Pak Idianto'

WowKeren - Seorang guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SMAN 12 Bekasi dicopot dari jabatan pada Rabu (12/2). Hal ini dikarenakan guru berinisial I itu melakukan tindak pemukulan terhadap beberapa muridnya yang terlambat dan tidak menggunkan ikat pinggang.

Meski begitu, guru tersebut mendapatkan pembelaan dari para siswa SMAN 12 Bekasi. Pembelaan dan dukungan tersebut membuahkan petisi di change.org yang nantinya akan ditujukan kepada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Kemendikbud RI, dan Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Adanya petisi tersebut, dibenarkan oleh Wakil Bidang Humas SMAN 12 Bekasi, Irnatiqoh. "Oh iya itu silakan aja anak-anak yang membuat," ujarnya di SMAN 12 Bekasi, Jalan I Gusti Ngurah Rai, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jumat (14/2). "Kita sih guru harus di pihak yang netral. Karena kondisinya memang seperti itu, ya sudah berjalan saja."

Keberadaan petisi itu sendiri telah diketahui oleh para guru dan pihak sekolah. Namun, sekolah tetap memilih berada di posisi netral yang tidak memihak dan memantau perkembangan yang bakal terjadi. "Kita memantau juga cuma sebatas memantau yang penting sekolah kondusif. Jadi kreasi anak-anak aja," imbuhnya.


Hingga Jumat (14/2) pagi, petisi yang berjudul "Jangan Mutasi Pak Idianto" itu telah ditanda tangani oleh 478 responden. Tak hanya petisi, aksi demo pun dilakukan para siswa lantaran tidak rela sang guru dinonaktifkan sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

"Di satu sisi beliau (I) itu memang bagus program-programnya cara mengajarnya kedisiplinan kepada anak-anak," terang Irnatiqoh. "Memang yang kita sayang kan hanya satu sikap kekerasan itu."

"Jadi anak-anak itu setelah tahu seperti itu jadi mereka menyesal karena vonis atau hukuman yang beliau terima seolah-olah mereka nggak rela gitu (sehingga berdemo)," sambungnya.

Sebelumnya diberitakan, permasalahan ini bermula pada Selasa (11/2) di mana ratusan siswa terlambat masuk sekolah dan dikumpulkan di lapangan upacara sekolah. "Putra ada 72, putri ada 100, jadi 172 (siswa) kemarin yang telat. Biasanya paling banyak 20 (yang telat)," ungkap Irnatiqoh.

Lali setelahnya, guru dengan insial I itu mengarahkan para siswa ke lapangan lalu melakukan aksi pemukulan yang diabadikan dalam video dan disebar di media sosial. "Dua orang (yang dipukul). Kelas 12, (berinisial) R. Satunya lagi A," tuturnya.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts