Ingin Pindahkan Siswi Korban Bullying ke SLB, Ganjar Dinilai Lestarikan Stigma Negatif Difabel
Nasional

Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik), Ishak Salim menolak rencana Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk memindahkan siswi korban perundungan ke SLB.

WowKeren - Wacana Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk memindahkan siswi korban perundungan mendapat penolakan dari Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (Perdik), Ishak Salim. Ganjar dikabarkan ingin memindahkan pelajar berinisial CA dari SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, ke sekolah luar biasa atau SLB karena dianggap rawan perundungan.

"Tidak!," kata Ishak seperti dilansir dari Antara, Sabtu (15/2). Ishak menilai bahwa dengan memindahkan CA ke SLB sama saja dengan melestarikan stigma negatif terhadap kalangan disabilitas. Diketahui, CA merupakan seorang siswi penyandang disabilitas yang menuntut ilmu di sekolah formal.

Ishak menilai bahwa saat ini dunia pendidikan telah menuju ke arah terbuka bagi setiap kalangan. Sehingga setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan formal, termasuk penyandang disabilitas.

Menurut Ishak perundungan yang dialami CA bisa saja terjadi di sekolah lain yang mulai menerima difabel sebagai peserta didik. Sementara di masyarakat sendiri masih berkembang paradigma yang menganggap bahwa difabel adalah insan sakit.


Padahal, anak didik penyandang disabilitas sejatinya juga membawa kemampuan mereka. "Semakin banyak ragam kemampuan peserta didik itulah realitas inklusivitas," lanjut Ishak.

Lebih jauh, ia menyayangkan sikap gubernur yang justru berpotensi menghambat praktik penyetaraan disabilitas. Padahal, lanjutnya, aktivis difabel di berbagai kota selama ini terus memperjuangkan agar pendidikan untuk difabel tidak segregatif.

"Jika seorang gubernur berpikir sebaliknya patut disayangkan," tegas Ishak. "Padahal, selama ini warganya mempraktikkan kesetaraan disabilitas di semua sektor penghidupan."

Melanjutkan, Ishak mengatakan bahwa ketika para difabel sudah memilih sekolah umum untuk mendapatkan akses ke pendidikan formal, maka pihak yang lain juga harus menyesuaikan. "Saat difabel mulai memilih sekolah umum dan masuk dalam sistem pendidikan yang selama ini mengabaikan eksistensinya, maka pihak-pihak terkait baik kepala sekolah, guru, maupun para siswa didik lainnya harus juga mulai beradaptasi," teganya lagi.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait