Siaran langsung yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta menunjukkan seorang reporter wanita yang melaporkan kabar terbaru terkait Corona dengan mengenakan masker gas atau gas mask.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 03 Maret 2020 - 12:56 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona (Covid-19) kini tengah menjadi isu yang paling panas di tengah masyarakat. Terlebih, Indonesia baru saja mengonfirmasi 2 pasien Corona pertama pada Senin (2/3) kemarin.
Media massa, baik televisi maupun online, lantas ramai memberitakan wabah Corona ini. Sebuah siaran televisi soal Corona pun mendapat banyak sorotan karena penampilan sang reporter.
Siaran yang dimaksud adalah program "Apa Kabar Indonesia" malam yang ditayangkan oleh stasiun televisi TV One. Dalam siaran langsung tersebut, tampak seorang reporter wanita melaporkan kabar terbaru terkait Corona dengan mengenakan masker gas atau gas mask.
Momen viral ini lantas dikomentari oleh seorang dokter lulusan cumlaude dari Fakultas Kedokteran UGM, Tirta Mandira Hudhi atau yang akrab disapa dr. Tirta. Melalui akun Instagram pribadinya, dr. Tirta mempertanyakan soal jenis masker yang dikenakan reporter tersebut.
"Ngapain siaran pake GAS MASK? Niat baik oke. Kabarin berita. But. Begitu orng cek masker , pasti panik? Iye lah. Viral? Iya. Tapi fokusnya ga ke berita lagi, tapi ke masker ini," tulisnya pada Senin (2/3). "Ini koordinasi timnya gimana? Mosok gini to. Ga ngulik dulu, jenis2 masker. Masa ga siap2 dulu ketika mau live?"
Lebih lanjut, dr. Tirta menjelaskan bahwa efek dari siaran live tersebut adalah kehebohan di tengah masyarakat awam. Ia juga menyebut bahwa hal ini tergolong fatal.
"Dan ini tergolong fatal, kenapa? Karena anjuran menkes aja . Masker itu untuk pasien dan orang beresiko, orng yg pake transport umum, DAN maskernya pun yg disposable," jelasnya. "Gas mask itu, biasanya buat menahan debu dan logam berat, lah emang mau buat radiasi + graffiti ? Come on ?!?! PAKE gas MASK buat nangkal virus? Ayolah -.- dokter ga ada yg pernah pake itu bosku ketika operasi."
Terakhir, dr. Tirta meminta agar media memikirkan terlebih dahulu efek yang bisa disebabkan sebelum menyiarkan sebuah berita. Pasalnya, cakupan media massa menjangkau masyarakat luas.
"Ayolah. Pikirkan orng orng yg liat brita ini. Dan gimana paniknya orng awam. Semua ada sebab akibat, kenapa ga dpikirkan impact nya. Sebelum make? Ini pasti ada tim nya kan? Mosok gegabah to," lanjutnya. "Tolonglah. Koordinasinya diperbaiki. Impact kalian besar. Jangan sampe niat baik bergeser jadi begini."
(wk/Bert)