Anggota Komisi IX DPR Dewi Aryani menilai amat tidak mungkin rasanya jika di Indonesia yang notabene lebih banyak penduduknya dibanding Korea Selatan dan Singapura, tes hanya dilakukan pada 300 orang.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 10 Maret 2020 - 16:24 WIB
WowKeren - Jumlah pasien yang positif terjangkit corona di negara-negara di dunia relatif mengalami peningkatan. Di Indonesia sendiri, dilaporkan sudah ada sebanyak 19 kasus hingga saat ini.
Anggota Komisi IX DPR Dewi Aryani meminta agar Kementerian Kesehatan lebih terbuka dalam membeberkan berapa jumlah pasien yang sudah dites sejauh ini. "Menkes sebaiknya jujur ada berapa jumlah alatnya dan berapa jumlah pasien yang sudah dites dalam beberapa waktu ini," kata Dewi, Selasa (10/3).
Ia kemudian membandingkan kondisi ini dengan yang ada di Singapura maupun Korea. Menurutnya, kedua negara tersebut telah melakukan tes pada ratusan ribu orang. Sehingga amat tidak mungkin rasanya jika di Indonesia yang notabene lebih banyak penduduknya, tes hanya dilakukan pada 300 orang saja.
"Kita lihat Singapura, Korea dan lain-lain, mereka sudah melakukan tes kepada puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang," lanjut Dewi. "Masa Indonesia hanya melakukan tes hanya kepada sebanyak 300-an orang saja."
Terlebih lagi, pintu masuk negara yang dimiliki Indonesia ada di berbagai penjuru. Sehingga ia mempertanyakan dengan jumlah tersebut. "Tidak masuk akal dengan dengan luasan wilayah dan pintu masuk ke negara ini yang begitu banyak dan beragam. Something is just not right," imbuh politikus PDIP ini.
Dewi menilai bahwa prosedur pemeriksaan yang dilakukan oleh Kemenkes kurang efektif. Pasalnya tes itu sendiri memakan waktu sekitar 3-5 hari. Tak cukup sampai di situ. Ia menyebut bahwa prosedur itu hanya jika rumah sakit berada di Pulau jawa. Sehingga bagaimana jadinya jika RS berada di luar pulau apalagi yang jauh dari bandara.
"Itu pun masih di wilayah Pulau Jawa," tegasnya lagi. "Bagaimana jika rumah sakit rujukan berada di luar Pulau Jawa dengan lokasi yang jauh dari pusat kota dan bandara."
Untuk itu, ia meminta Kemenkes segera melakukan langkah cepat dengan menambah alat serta jumlah orang yang di tes. "Bukan untuk membuat panik, tapi lakukan secara proporsional merata di semua provinsi," imbuhnya.
(wk/zodi)