Wali Kota Suarabaya Tri Rismaharini memutuskan untuk tak melakukan lockdown kotanya di tengah wabah corona. Meski begitu, Risma memutuskan untuk meliburkan siswa tingkat TK,SD dan SMP.
- Nidya Putri
- Senin, 16 Maret 2020 - 11:36 WIB
WowKeren - Pemerintah RI pada Minggu (15/3) menyampaikan adanya peningkatan jumlah penderita corona di Tanah Air menjadi 117 orang. Meningkatnya jumlah penderita covid-19 ini membuat sejumlah pihak khawatir.
Tak sedikit, kepala daerah yang memutuskan untuk me-lockdown wilayahnya seperti Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Meski begitu, langkah tersebut tak dilakukan oleh Wali Kota Suarabaya Tri Rismaharini.
Seperti yang diketahui sistem lockdown atau isolasi dilakukan oleh sejumlah negara sebagai cara untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. "Kita coba lihat Korea Selatan yang membuktikan tidak perlu lockdown," ujar Risma saat menggelar jumpa pers di rumah dinasnya, di Surabaya, Minggu (15/3). "Tapi yang penting adalah kita disiplin."
Lebih lanjut, Risma menjelaskan bahwa pihaknya telah berdiskusi soal meliburkan sekolah dan akhirnya melalui Dinas Pendidikan Surabaya memutuskan untuk meliburkan siswa tingkat TK,SD dan SMP. "Kalau memang dirasa perlu akan kita lakukan. Tapi sebenarnya saya ingin membagikan vitamin untuk jaga imunitas kepada mereka," katanya. "Tapi kalau diliburkan sulit untuk mencari mereka."
Selain itu, Risma juga telah mengeluarkan surat edaran imbauan kepada warga yang bepergian ke luar negeri. "Sebaiknya ditunda dulu atau kalau memang mendesak sebaiknya mengkarantina diri sepulang dari luar negeri," imbuhnya.
Menurut Risma yang paling penting dalam menghadapi ancaman virus covid-19 adalah dengan disiplin menjaga hidup sehat. Ia kembali mengingatkan warga agar segera memeriksakan diri ketika merasa tidak sehat.
"Jangan sampai datang ke rumah sakit ketika dalam kondisi akut karena bisa terlambat nanti," pungkasnya. "Saya tegaskan lagi pemeriksaannya gratis. covid-19 bisa disembuhkan."
Sebelumnya, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya dr Akmarawita Kadir meminta pemerintah kota untuk mempertimbangkan perlu dan tidaknya mengambil kebijakan lockdown atau isolasi. Pasalnya, ada beberapa hal penting yang harus disiapkan oleh pemkot jika harus mengambil keputusan lockdown antara lain adalah kepatuhan warga, ketegasan aparat, menjamin ketersediaan bahan pokok termasuk makanan bagi warga tidak mampu, kekuatan informasi dan komunikasi.
"Salah satu contoh pengendalian yang menurut saya belum berhasil dan butuh perhatian adalah langka dan mahalnya masker dan hand sanitazer (penyanitasi tangan) di Kota Surabaya, ini merupakan contoh pengendalian yang tidak berhasil di atasi oleh pemkot," katanya.
(wk/nidy)