Kemendag Setop Ekspor Masker dan Hand Sanitizer, YLKI Nilai Terlambat
Nasional

Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker.

WowKeren - Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mulai menyetop sementara ekspor produk antiseptik, bahan baku masker, alat pelindung diri, dan masker. Penyetopan ekspor ini berkaitan dengan merebaknya virus corona (Covid-19) di Indonesia yang kini telah menjangkit 227 orang.

Kebutuhan atas masker hingga antiseptik atau hand sanitizer memang meninggi, dengan demikian harga-harga di pasaran juga turut melambung naik. Hal ini juga menimbulkan banyak kelangkaan di berbagai ritel offline atau marketplace online.

Aturan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri, dan Masker. Beleid ini berlaku mulai Rabu (18/3) hari ini.

"Pemerintah perlu menjaga ketersediaan untuk pelayanan kesehatan dan perlindungan diri bagi masyarakat," demikian kutipan Permendag tersebut, dilansir Kumparan pada hari ini. "Maka perlu peraturan mengenai larangan sementara ekspor tersebut."


Kebijakan ini lantas dinilai terlambat oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Meski demikian, kebijakan ini masih lebih baik dilakukan daripada tidak sama sekali.

"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," tutur Ketua Harian YLKI Tulus Abadi. "Ngapain diekspor wong kebutuhan di dalam negeri saja membludak? Logika ekspor itu kan jika di dalam negeri tidak terserap."

Lebih lanjut, Tulus menyarankan agar Kemendag melakukan operasi pasar untuk memenuhi kebutuhan masker di masyarakat. Mengingat kini masker telah menjadi barang langka. "Selain melarang ekspor. Kemendag harus mendorong peningkatan kapasitas produksi," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Kemendag Arief Safari. Ia mengakui bahwa para konsumen kesulitan mencari masker. Harganya juga kini sangat tinggi.

Oleh sebab itu, Arief menyebut bahwa pemerintah perlu menggenjot produksi masker untuk meredam harga di pasaran. "Untuk segera menambah pasokan maskernya dan menambah jatah pasokan kepada konsumen. Sehingga bisa memberi alternatif pasokan bagi konsumen yang membutuhkannya," pungkas Arief.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait