Menurut anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Putu Supadma Rudana, kasus corona bisa diibaratkan seperti bola salju, lama kelamaan akan semakin membesar.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 18 Maret 2020 - 20:04 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah mengonfirmasi adanya 55 kasus virus corona (Covid-19) baru pada Rabu (18/3) hari ini. Dengan demikian, total pasien yang positif terjangkit virus corona telah mencapai 227 orang, dengan angka kematian yang juga meningkat menjadi 19 orang.
Angka kematian yang meningkat tajam tersebut membuat anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Putu Supadma Rudana meradang. Putu menyebut Presiden Joko Widodo menyepelekan penyebaran pandemi virus corona yang tengah terjadi.
Menurut Putu, kasus corona bisa diibaratkan seperti bola salju, lama kelamaan akan semakin membesar. Namun, pemerintah disebutnya tak pernah mendengar masukan DPR untuk cepat menangani pandemi ini.
"Pemerintah terlalu lambat sehingga sekarang sudah 19 orang yang meninggal karena positif corona," tutur Putu dilansir CNN Indonesia pada Rabu (18/3) hari ini. "Tolong Pak Presiden jangan anggap sepele virus corona ini, segera ambil sikap."
Putu menilai bahwa tak ada cara lain untuk menekan penyebaran virus corona selain melakukan pembatasan wilayah alias lockdown. Ia meminta agar Jokowi menerapkan langkah lockdown tanpa memikirkan dampak ekonomi.
Menurut Putu, Jokowi dapat menggunakan kebijakan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk meredam dampak ekonomi saat lockdown. Kebijakan yang dimaksud Putu adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT).
"Salah satunya, saya mengusulkan agar pemerintah door to door memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau pemberian beras gratis kepada masyarakat saat masa lockdown nanti," jelas Putu. "Pemerintah jangan gengsi menggunakan program pro rakyat yang pernah digunakan saat era Pak SBY dulu."
Selain itu, Putu juga mengusulkan bahwa Jokowi dapat menggunakan anggaran perjalanan dinas untuk membelikan sembako dan obat-obatan untuk rakyat. Pasalnya, anggaran perjalanan dinas sebesar Rp 43 triliun kini tak terpakai lantaran perjalanan dinas disetop gara-gara corona.
(wk/Bert)