PDP tersebut mengalami demam lebih dari 38 derajat celsius dan hasil rontgen paru-parunya buruk. PDP tersebut langsung diminta masuk ke ruang isolasi sejak hari pertama di rumah sakit.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 15 April 2020 - 14:23 WIB
WowKeren - Seorang pasien dalam pengawasan (PDP) terkait virus corona atau Covid-19 membagikan kisahnya kala menjalani isolasi di rumah sakit rujukan di Jakarta Selatan (Jaksel). PDP berinisial NS tersebut menyaksikan sendiri bagaimana 2 pasien di ruangannya meregang nyawa hingga akhirnya meninggal dunia.
Melalui akun Facebook pribadinya, NS menjelaskan bahwa ruang isolasinya selalu terkunci dari luar. Ia sendiri mengalami demam lebih dari 38 derajat celsius dan hasil rontgen paru-parunya buruk. PDP tersebut langsung diminta masuk ke ruang isolasi sejak hari pertama di rumah sakit.
"Sekamar aku bertiga. Satunya sudah pulang karena hasil negatif," tulis NS. "agi ini yang positif baru dipindahkan ke lantai khusus positif Covid-19. Lalu, aku sendirian di kamar."
Di hari berikutnya, 2 orang pasien yang baru dimasukkan ke ruang isolasi NS. Sebut saja kedua pasien itu dengan Lia dan Sri.
"Aku ingin bercerita dulu tentang 2 pasien yang jadi 'teman' baruku 2 hari ini," tambah NS. "Pagi ini mereka dijemput maut dalam waktu berdekatan. Jenazah keduanya masih bersamaku di ruangan isolasi."
Diketahui, Sri masuk ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri karena stroke. Keadaan Sri pun semakin memburuk meski sebelumnya sudah sempat lebih tenang.
"Dan pagi ini jam 05.00 WIB, susunya tak jadi dituang lewat selang makan. Suster malah bergegas mengambil EKG dan alat-alat lain," tulis NS. "Dari kejauhan aku tahu Sri sedang meregang ajal. Hatiku mencelos. Tidak pernah mudah melihat kematian di depan mata."
Dalam waktu yang sama, NS melihat bahwa napas Lia tersengal dan melaporkannya kepada perawat. Sang perawat pun langsung menuju tempat Lia dan memindahkan semua alat yang digunakan untuk menangani Sri ke ranjang Lia. Sayangnya, Lia turut tutup usai menyusul Sri.
"Sesaat aku tidak bisa memahami perasaanku. Seperti kebas. Tak merasakan apa-apa. Berikutnya, perlahan otakku mencerna. Ada 2 kematian di depan mataku. Berurutan. Hanya dalam hitungan menit. Tubuhku gemetaran," jelas NS. "Setelah mereka keluar. Ruangan sepi. Hanya ada aku dan 2 jenazah yang senyap. Aku segera menelepon anakku. Nangis."
Jenazah belum kunjung dipindahkan meski 3 jam telah berlalu. 4 orang akhirnya masuk sekitar pukul 11.30 WIB untuk mengurus kedua jenazah tersebut. Petugas pun menutup dengan kain pembatas sehingga NS tak dapat melihat proses yang berlangsung.
"Tujuanku (menulis) untuk menginspirasi, menguatkan baik bagi penderita corona maupun yang masih sehat," pungkas NS. "Menyemangati para tenaga medis. Dan mengingatkan mereka yang menyepelekan."
(wk/Bert)