Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur sama-sama merilis peta persebaran virus corona (COVID-19). Apa perbedaan keduanya?
- Ruth Meliana
- Kamis, 16 April 2020 - 10:44 WIB
WowKeren - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) telah merilis peta sebara virus corona (COVID-19) di wilayahnya pada Selasa (14/4). Tidak ketinggalan, Kepolisian Daerah (Polda) Jatim juga merilis peta anatomi COVID-19 yang lebih detail pada Rabu (15/4).
Lantas apa perbedaan dari dua peta sebaran COVID-19 yang diluncurkan dua lembaga pemerintahan ini? Rupanya, perbedaannya terletak pada sasaran yang bisa mengaksesnya.
Dilansir Suara Surabaya, peta real-time sebaran virus corona milik Pemprov Jatim ini bisa diakses oleh masyarakat secara luas melalui situs resmi Pemprov Jatim. Sementara itu, peta anatomi COVID-19 milik Polda Jatim tidak bisa diakses oleh publik.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jatim, Inspektur Jenderal Polisi Luki Hermawan. Ia menjelaskan jika peta sebaran virus corona milik pihaknya hanya bisa diakses Tim Gugus Tugas COVID-19.
Peta sebaran milik Polda Jatim ini juga disebut dengan nama peta kerawanan COVID-19. Diharapkan, peta ini bisa menjadi acuan pengambilan kebijakan atau tindakan oleh Gugus Tugas COVID-19 dalam menangani penyebaran virus.
Lebih lanjut Luki menegaskan jika peta sebaran Polda Jatim akurat lantaran mengacu dari data-data yang didapat dari Posko Gugus Tugas COVID-19 Jatim. Selain itu, data juga didapat dari penelusuran lapangan oleh Babinsa dan Babinkamtibmas.
Sementara itu, peta milik Pemprov Jatim yaitu radarcovid19 dijelaskan memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Anggota Tim Kuratif Gugus Tugas COVID-19, Makhyan Jibril Al Farabi menjelaskan jika peta ini dibuat untuk masyarakat agar lebih peduli dalam mengantisipasi penularan virus.
“Intinya, kami mengajak masyarakat peduli dan bergotong royong di area itu,” jelas Makhyan. “Namun, kami juga mengantisipasi jangan sampai masyarakat mencari-cari, siapa yang positif siapa yang PDP di wilayah itu. Karena itu kami merandom setiap titik sejauh satu kilometer.”
(wk/lian)