Pandemi Corona 'Guncang' Dunia Pendidikan Indonesia, Bukti Tak Siap Hadapi Perkembangan Zaman?
Nasional

Pandemi virus corona (COVID-19) yang terjadi saat ini cukup mengguncang dunia pendidikan di Indonesia, bukti jika tidak siap menghadapi perkembangan zaman?

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) tidak hanya mengancam nyawa masyarakat dunia, namun menimbulkan berbagai dampak negatif di berbagai bidang. Salah satunya adalah dunia pendidikan.

Seperti yang diketahui, aktivitas belajar mengajar di sekolah memang telah diliburkan pemerintah Indonesia sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona. Sebagai gantinya, aktivitas belajar mengajar dilakukan di rumah masing-masing dengan mengandalkan sejumlah media seperti internet, televisi, hingga radio.

Namun, penelitian dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) menyebutkan jika telah terjadi sejumlah kendala di Indonesia terkait pembelajaran jarak jaug (RJJ). Bahkan, dunia pendidikan Indonesia disebut ketinggalan zaman dan belum siap menghadapi abad 21.

”Sekarang kenapa guru kesusahan kerja dari rumah, pendidikan kesulitan,” ujar Pengamat CERDAS, Indra Charismiadji seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (15/4). “Artinya pendidikan tidak sesuai zaman.”

Indra tidak menyetujui kurikulum darurat yang langsung dibuat pemerintah kala pandemi corona saat ini. Menurutnya, kurikulum yang telah ditentukan sebelumnya masih bisa diberdayakan untuk pembelajaran jarak jauh.

Indra lantas mengungkap berbagai masalah yang masih menimpa dalam dunia pendidikan di Indonesia. Diantaranya adalah kemampuan pemahaman tenaga pendidik dan keterbatasan fasilitas. Ia berpendapat jika guru belum memaksimalkan kurikulum dalam mengajar di sekolah.


”Setiap tahun (anggaran pendidikan bisa sampai) Rp500 triliun, tapi kok pembelajaran daring saja kita begitu kacau,” ujar Indra. “Artinya anak-anak Indonesia tidak siap menghadapi abad 21.”

Kurikulum hasil desain pemerintah pusat dinilai kurang dipahami oleh para guru. Akibatnya, guru hanya mengajar menggunakan pemahaman masing-masing.

Selain kurikulum, ketergantungan orangtua terhadap pihak eksternal selama ini dinilai cukup membuat dunia pendidikan di Indonesia kesulitan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Terlebih, orangtua selama ini terbiasa mengandalkan sekolah hingga bimbingan belajar dalam mendidik anak sehingga cukup kebingungan kala proses belajar dilakukan di rumah.

”Itu yang sebetulnya harus dipandu sekarang, sekarang kan dibiarkan saja,” jelas Indra. “Guru nggak dipandu oleh Kemendikbud. Orang tua juga nggak dipandu. Semua chaos saja.”

Hal serupa juga dikatakan oleh Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Suyanto. Menurutnya, Kemendikbud harus membuat program belajar dari rumah dengan teknis yang jelas. Salah satunya terkait kondisi ekonomi dan budaya masyarakat.

Culture kita itu tidak bisa belajar mandiri, harus ada guru. Ketika tidak ada guru belajar dari rumah gak ada guru dianggap libur bukan sekolah di rumah," saran Suyanto. “Misalnya kurikulum disederhanakan, akan banyak guru yang tidak dapat jam belajar. Itu bisa jadi masalah. Dan kalau permasalahannya menyangkut banyak hidup orang itu bisa jadi politis, dan bisa mengganggu stabilitas (negara).”

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sendiri telah menerima setidaknya 213 keluhan siswa soal tugas menumpuk selama PJJ. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga mendapati 58 persen anak mengaku tidak senang menjalani program Belajar dari Rumah.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait