130 KK di Kabupaten Agam, Sumatera Barat mengembalikan beras bansos yang mereka terima lantaran dinilai masih mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Aksi ini pun menginspirasi banyak pihak.
- Elvariza Opita
- Kamis, 16 April 2020 - 14:59 WIB
WowKeren - Perekonomian masyarakat, khususnya yang menengah ke bawah, tentu begitu terdampak akibat wabah virus Corona. Apalagi bila pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menghambat mobilitas warga diterapkan.
Oleh karenanya pemerintah daerah biasanya menyiapkan sejumlah bantuan untuk warganya yang terdampak. Namun aksi kemanusiaan oleh ratusan warga Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini sukses membuat publik terenyuh.
Bagaimana tidak? Warga Kabupaten Agam yang menerima bantuan sosial berupa beras itu dilaporkan mengembalikan bansosnya kepada pemerintah. Sebab mereka merasa masih berkecukupan dan ingin berbagi dengan warga lain yang dirasa lebih membutuhkan.
"Ada sekitar 130 kepala keluarga yang mengembalikan beras 10 kilogram ke kecamatan," terang Camat Malalak, Riki Eka Putra, Senin (13/4). "Mereka ingin berbagi."
Menurut Riki, setidaknya ada 873 kepala keluarga yang berhak menerima bantuan, bila dilihat dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) 2019. Rinciannya, sebanyak 238 KK berhak mendapatkan 10 kilogram beras dan 635 KK mendapatkan 20 kilogram beras.
"Namun data tersebut banyak berubah. DTKS itu tahun 2019, sementara tahun ini sudah berubah," ujar Riki, seperti dilansir dari Kompas. "Akhirnya warga berinisiatif ingin membantu sesama dengan mengembalikan berasnya."
Dengan demikian, ada 1,3 ton beras bantuan yang sudah dikembalikan ke kecamatan dari 130 KK tersebut. "Beras yang terkumpul kembali itu kita serahkan kembali ke warga yang lebih membutuhkan," kata Riki.
Inisiatif warga mengembalikan beras bantuan karena dinilai tak memerlukan ini jelas mencuri perhatian banyak orang dan menjadi inspirasi tersendiri. Pihak pemerintah pun mengapresiasi aksi kemanusiaan para warga Kecamatan Malalak itu.
"Ini membuktikan kekompakan dan toleransi warga sudah sangat baik," pungkas Riki. "Kita berharap kekompakan ini terus terjaga."
Di sisi lain, saat ini pemerintah Sumbar sudah mendapatkan restu untuk menerapkan PSBB. Namun PSBB ini hanya dilakukan di Pekanbaru yang merupakan ibu kota provinsi tersebut.
Namun demikian ada yang berbeda dari penerapan PSBB Pekanbaru ini. Sebab PSBB hanya diterapkan saat malam hari demi membatasi aktivitas warga yang hendak bepergian maupun berbelanja di malam hari.
(wk/elva)