Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membeberkan kelebihan menonjol alat rapid test buatan anak bangsa ketimbang hasil impor negara lainnya.
- Ruth Meliana
- Jumat, 17 April 2020 - 14:32 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah upaya untuk mencegah penyebaran wabah virus corona (COVID-19) semakin meluas. Diantaranya dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga mengadakan rapid test massal di sejumlah wilayah Indonesia.
Baru-baru ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan akan segera memproduksi alat Rapid Diagnostic Test (RDT) Kit dalam waktu dekat. Hal ini guna memenuhi permintaan dalam negeri yang terus melonjak seiring dengan kenaikan kasus COVID-19 setiap harinya.
BPPT bahkan membeberkan keunggulan alat rapid test buatan anak bangsa ketimbang hasil impor negara lainnya. Rupanya, RDT buatan Indonesia diklaim lebih sensitif dari produk luar negeri.
Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan sensitivitas RTD buatan anak bangsa lebih unggul lantaran menggunakan strain virus orang Indonesia saat dalam proses pengembangan. Sementara jika rapid test hasil impor biasanya menggunakan strain virus dari negara lain yang belum tentu cocok.
”Kami targetkan sensitivitas RDT akan lebih tinggi dalam mendeteksi COVID-19 di Indonesia dengan menggunakan strain virus dari pasien positif Indonesia,” jelas Hammam seperti dilansir dari CNNIndonesia, Kamis (16/4). “Tentu hal ini berbeda dengan RDT kit yang diproduksi luar negeri, karena kit impor tersebut menggunakan strain virus dari negara lain.”
Saat ini, rapid test yang dibuat oleh pihak BPPT memiliki dua tipe. Keduanya adalah RDT deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT deteksi antigen micro-chip.
BPPT rencananya akan mulai memproduksi RDT ini secara massal pada bulan Mei. Kerja sama akan dilakukan BPPT dengan Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) sebagai bagian dalam Konsorsium COVID-19 yang dibentuk Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).
”Mohon dukungan dan doa dari semua pihak, agar RDT deteksi antibodi IgG/IgM dapat diproduksi bulan Mei,” terang Hammam. “Saat ini kami terus melakukan percepatan pengembangan purwarupa RDT IgG IgM dan RDT micro-chip.”
”Kami akan terus mengakselerasi,” sambungnya. “Agar produk ini dapat segera digunakan untuk mendukung percepatan penanganan pandemik virus COVID-19 secara nasional.”
(wk/lian)