Vaksin BCG Disebut Penyebab Rendahnya Angka Positif Corona di Indonesia, Apa Benar?
Health

Angka kasus terkonfirmasi virus corona di Indonesia tergolong rendah bila dibandingkan dengan Amerika Serikat. Hal ini memunculkan asumsi dimana angka rendah tersebut disebabkan vaksin BCG yang diberikan saat imunisasi.

WowKeren - Media sosial tengah ramai membicarakan terkait angka kasus terkonfirmasi corona Indonesia yang relatif rendah bila dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS). Hingga Minggu (19/4), tercatat ada total 6.575 orang yang positif terinfeksi Covid-19 di Tanah Air.

Angka konfirmasi Covid-19 yang relatif rendah ini kemudian dianggap karena adanya penggunaan vaksin BCG pada bayi baru lahir. Vaksin BCG, akronim dari Bacille Calmette-Guérin (BCG), merupakan vaksin tuberkulosis yang dibuat dari baksil tuberkulosis yang dilemahkan dengan dikulturkan di medium buatan selama bertahun-tahun. Lantas benarkah hal tersebut?

Pertama perlu diketahui, apabila Indonesia hanya mengonfirmasi 6.575 orang yang terinfeksi corona pada Minggu (19/4) kemarin, AStelah melakukan tes Covid-19 kepada 3.579.797 warga penduduknya. Setidaknya tercatat 2.146 orang per satu juta penduduk yang dites.

Apabila dibandingakan dengan Indonesia, jumlah kasus yang dites masih sangat rendah. Dari sekitar 260 juta penduduk di Indonesia, yang melakukan tes Covid-19 baru 37.134 orang. Artinya baru 23 orang per satu juta penduduk yang dites.

Pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Panji Hadisoemarto mengatakan bahwa angka pelaporan kasus di Indonesia harus disandingkan dengan jumlah kasus potensial yang dikonfirmasi laboratorium untuk Covid-19.

"Karena jumlah pemeriksaan yang kita lakukan masih sedikit, kemungkinan besar banyak kasus tidak berhasil kita temukan," ungkap Pandji dikutip dari Kompas, Senin (20/4). "Negara lain mungkin melaporkan lebih banyak kasus, justru karena mereka lebih bagus dalam pencarian kasusnya."


Negara-negara di seluruh dunia sedang berjuang meningkatkan pengujian. Ini artinya, jumlah kasus yang dilaporkan saat ini sebenarnya jauh di bawah perkiraan.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin BCG dapat mencegah penularan Covid-19. "Tidak ada bukti bahwa vaksin BCG melindungi orang dari infeksi virus Covid-19," tulisnya pada laman resmi WHO. "menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin BCG dapat mencegah penularan Covid-19. "Tidak ada bukti bahwa vaksin BCG melindungi orang dari infeksi virus Covid-19."

Tanpa adanya bukti, WHO tidak merekomendasikan vaksinasi BCG untuk pencegahan Covid-19. Mereka justru merekomendasikan agar vaksinasi BCG neonatal di negara dengan kasus TB yang tinggi.

Pada 11 April 2020, WHO memperbarui ulasan bukti yang sedang berlangsung dari database ilmiah dan repositori uji klinis menggunakan istilah pencarian bahasa Inggris, Perancis, dan Tiongkok untuk Covid-19, virus corona baru, SARS-CoV-2, dan BCG.

Tinjauan tersebut menghasilkan tiga pracetak (manuskrip yang diunggah online sebelum peer-review, atau peninjauan oleh pakar lain di bidang yang sesuai). Penulis membandingkan kejadian Covid-19 di negara-negara yang menggunakan vaksin BCG dengan negara yang tidak menggunakan vaksin BCG, juga mengamati bahwa negara yang secara rutin menggunakan vaksin BCG pada bayi baru lahir disebut memiliki lebih sedikit kasus Covid-19 yang dilaporkan saat ini.

Perlu diketahui, ini merupakan hasil studi sangat awal dan belum ditinjau oleh ahli lain. Oleh sebab itu, hasilnya pun tidak dapat dijadikan acuan.

"Studi-studi ekologi (studi korelasi populasi) semacam ini rentan menjadi bias, termasuk perbedaan dalam demografi nasional dan beban penyakit, tingkat pengujian untuk infeksi virus Covid-19, dan tahap pandemi di setiap negara," tulis WHO.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait