Para perempuan disebut memikul dampak sosial yang lebih berat di tengah pandemi virus corona (COVID-19) ketimbang kaum laki-laki. Lantas apa penyebabnya?
- Ruth Meliana
- Senin, 20 April 2020 - 18:17 WIB
WowKeren - Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyatakan jika kaum wanita mengalami dampak sosial yang lebih berat ketimbang lelaki di tengah situasi wabah virus corona (COVID-19). Beban sosial tersebut dialami wanita yang telah berkeluarga dan bekerja.
Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin menjelaskan jika pandemi saat ini telah membuat kaum wanita harus banyak menghabiskan waktu di rumah. Beban perempuan meningkat akibat kondisi isolasi lantaran harus mengerjakan urusan rumah tangga hingga mengasuh dan juga mengajar anak sekolah secara online.
”Kita membaca banyak suara dari banyak perempuan yang sekarang harus di rumah, terutama perempuan yang bekerja, itu mengalami beban yang sangat berat karena mereka jadi terbebani urusan-urusan rumah,” jelas Mariana seperti dilansir dari BBCIndonesia, Senin (20/4). “Mulai dari mengasuh anak, mengajar anak sekolah yang juga secara online.”
Sementara itu, kaum lelaki tetap memposisikan dirinya seperti biasa dalam kehidupan rumah tangga di tengah wabah corona ini. Banyak laki-laki yang tidak akan menjalankan tugas-tugas rumah tangga meskipun berada di rumah. Pasalnya, kaum lelaki sudah terbiasa menyerahkan urusan rumah tangga kepada istri.
”Pihak suami lebih banyak dalam posisi yang seperti biasanya, bahwa semua urusan rumah tangga harus dijalankan oleh istri,” kata Mariana. “Jadi banyak sekali yang mengeluh sebetulnya karena situasi kerja di rumah ini.”
Dampak ini semakin buruk bagi wanita yang sebelumnya telah terbiasa bekerja. Menurut Mariana, wanita menjadi tidak bisa mengelak lagi dalam menghadapi perannya sebagai seorang istri dan anak saat harus dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
”Dampak berlipat karena semua orang harus dirumahkan jadi perempuan mau tidak mau kembali harus menerima beban itu,” jelas Mariana. “Ketika dia berkantor dia bisa mengantisipasi dan mengatur semuanya, termasuk peran.”
”Tapi ketika semua orang dirumahkan, dia jadi tidak bisa mengelak dengan situasi sebagai ibu dan istri,” sambungnya. “Dia harus memegang beban ganda itu.”
Pendapat serupa diungkapkan oleh Penasihat Risiko Bidang Kemanusiaan dan Bencana di UN Women Asia & Pacific, Maria Holtsberg. Ia menyatakan jika dampak terhadap perempuan sangatlah tidak proporsional. "Krisis selalu memperburuk ketimpangan gender," tutur Holtsberg.
Oleh sebab itu, pemerintah didesak agar memberikan perhatian yang serius terhadap isu ketimpangan gender. Mariana kmebali memberikan sarannya agar ada anjuran terkait budaya dalam kehidupan rumah tangga di tengah situasi pandemi. Hal ini dinilai dapat menjadi solusi agar beban kaum wanita dan lelaki dapat seimbang.
”Solusinya sebetulnya selain anjuran kesehatan soal situasi COVID-19, seharusnya juga ada anjuran tentang budaya,” saran Mariana. “Budaya itu maksudnya bagaimana setiap keluarga itu dalam situasi pandemi ini bisa membagi tugas dan bekerja sama untuk mengelola kehidupan yang harus di rumah.”
”Jadi kan selama ini pemerintah kan hanya membicarakan untuk kesehatan, cuci tangan, tetap di rumah, dan sebagai macam,” sambungnya. “Tapi, hal-hal yang sifatnya sosial budaya itu tidak terjamah, tidak tersentuh padahal problem paling banyak itu justru persoalan sosial budaya, termasuk soal ekonomi.”
(wk/lian)