Dinas Pendidikan menemukan sejumlah sekolah di Sleman menghadapi beragam kendala saat proses belajar di rumah berlangsung. Selain persoalan akses internet, ada juga jumlah tugas yang menjadi kendala.
- Nidya Putri
- Selasa, 21 April 2020 - 14:26 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah melakukan segala cara untuk menekan penyebaran virus corona di Tanah Air. Salah satunya adalah dengan meliburkan sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA dan mengganti sistem belajar mengajar jarak jauh.
Sayangnya, belajar di rumah dengan menggunakan gawai dan internet memunculkan tantangannya sendiri. Seperti Sekolah di Sleman dari jenjang SD hingga SMP yang telah menerapkan sistem ini sejak 23 Maret lalu.
Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman pun secara berkala melakukan evaluasi. "Evaluasi yang kami lakukan tentang pembelajaran di rumah yang SMP seluruhnya daring memang ada masalah terkait dengan jaringan internet," kata Plt Kepala Disdik Sleman, Arif Haryono di Kantor Bupati Sleman, Senin (20/4).
Kendala tersebut lantas direspon dengan meminta sekolah untuk melakukan kebijakan. Terutama terkait waktu pengumpulan tugas yang disesuaikan dengan kondisi. "Sehingga itu (pengumpulan tugas) tidak dikatakan terlambat karena mereka ada masalah dengan jaringan internet maka masing-masing sekolah ada kebijakan tersendiri untuk pengumpulan tugas," jelasnya.
Kebijakan tersebut tidak sama antara sekolah satu dan lainnya. Sebab, daerah yang minim sinyal internet di Sleman juga tersebar. Termasuk sebaran siswa yang sampai ke daerah perbatasan-perbatasan provinsi.
"Akan tetapi memang sangat bervariasi antara sekolah satu dengan yang lain karena sebaran siswa itu ada di berbagai wilayah," jelasnya. "Daerah yang sinyalnya susah seperti di Kecamatan Minggir, Prambanan juga ada, mungkin sekitar daerah pinggiran."
Bukan hanya jenjang SMP saja yang menghadapi kendala, namun jenjang SD juga. Pasalnya, sejauh ini pembelajaran di SD mengandalkan pesan melalui WhatsApp.
Selain itu, belum semua siswa memegang ponsel sehingga menghambat proses pembelajaran. "Di SD pembelajaran dengan WA, padahal handphone-nya hanya satu per keluarga dan dibawa orangtua," paparnya. "Lalu kalau orangtua pagi kerja baru bisa mengerjakan pada sore hari setelah handphone-nya ada. Maka sekolah memberikan kelonggaran untuk mengumpulkan tugas."
Selain persoal tentang akses internet, dinas juga kerap mendapat aduan terkait beban tugas. Aduan itu bukan hanya berasal dari siswa maupun orang tua siswa namun juga guru.
"Ada juga guru sekolah yang memberikan penugasan selama belajar di rumah dengan tugas yang banyak sehingga membebani guru, siswa atau orangtua hingga akhirnya kita lakukan evaluasi," ungkapnya.
Oleh karena itu, dinas melakukan tindak lanjut berupa menerjunkan pengawas untuk melakukan monitoring kegiatan belajar di rumah. "Banyak laporan masuk terkait tugas yang membebani. Maka ini sudah kita tindaklanjuti," tutupnya. "Kami menugaskan pengawas untuk melakukan monitoring dengan pembelajaran di rumah."
(wk/nidy)