Ilmuwan Tiongkok telah berhasil menguji coba vaksin SARS-CoV-2 pada monyet rhesus. Selanjutnya, uji coba akan dilakukan pada manusia untuk menunjukkan apakah vaksin tersebut benar-benar berfungsi atau tidak.
- Nidya Putri
- Selasa, 28 April 2020 - 11:38 WIB
WowKeren - Peneliti dari seluruh dunia saat ini tengah dikejar waktu untuk menemukan vaksin virus corona. Pasalnya, virus yang menyerang saluran pernapasan ini telah menginfeksi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia.
Ilmuwan dari Tiongkok telah melakukan uji eksperimen vaksin untuk virus SARS-CoV-2 yang mereka kembangkan pada monyet. Hasilnya, monyet itu kebal dan terlindungi dari infeksi virus corona penyebab COVID-19.
Selanjutnya, vaksin tersebut akan diujikan kepada manusia. Hal ini untuk menentukan apakah vaksin tersebut juga ampuh untuk manusia atau tidak.
Meskipun baru sebatas percobaan kepada hewan dan dipublikasikan lewat jurnal pracetak yang belum ditinjau sejawat, terobosan vaksin COVID-19 eksperimental ini dipuji oleh para ilmuwan, dikutip dari Live Science.
“Jadi ini adalah data praklinis ‘serius’ pertama yang saya lihat untuk kandidat vaksin yang sebenarnya,” ujar Florian Krammer, seorang profesor di Departemen Mikrobiologi di Icahn School of Medicine, Mount Sinai, lewat unggahan di Twitternya pada 22 April 2020 lalu.
Sebelum diuji pada manusia sehat, vaksin virus corona SARS-CoV-2 memang harus melewati uji praklinis pada hewan, seperti monyet rhesus. Apabila pengujian ini menunjukkan hasil yang menjanjikan maka percobaan tersebut akan bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Menurut laporan peneliti vaksin pada jurnal bioRxiv, monyet rhesus tersebut kebal terhadap virus corona usai disuntik vaksin. Vaksin ini dikembangkan oleh Sinovac Biotech yang berbasis di Beijing, Tiongkok.
Pada tahap berikutnya, vaksin akan diujicobakan kepada 144 orang sehat untuk menguji keamanan dan efektivitas vaksin, serta efek sampingnya. Kemudian vaksin tersebut akan memasuki tahap uji efikasi terhadap lebih dari 1.000 orang tambahan.
Menurut Meng Weining, Direktur Senior Sinovac Biotech, uji efikasi bertujuan melihat apakah vaksin memicu respons kekebalan tubuh yang memadai. Vaksin buatan Sinovac mengandung versi tidak aktif dari SARS-CoV-2.
Dengan memasukkan virus yang tidak aktif ke dalam tubuh, vaksin semestinya bisa mendorong sistem daya tahan tubuh untuk membangun antibodi yang menargetkan patogen tanpa memicu infeksi. Menurut laporan peneliti, ketika diberikan kepada tikus dan monyet rhesus, vaksin memicu produksi antibodi tersebut.
“Ini teknologi kuno,” tulis Krammer, dalam utas Twitter-nya. Menurutnya, metode pembuatan yang telah dilakukan sejak lama oleh para ilmuwan memudahkan vaksin untuk dibuat.
“Yang paling saya sukai adalah bahwa banyak produsen vaksin, juga di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah, dapat membuat vaksin semacam itu,” ujar Krammer dalam wawancaranya bersama majalah Science.
Untuk menguji apakah antibodi yang dihasilkan vaksin akan menetralkan SARS-CoV-2, tim peneliti mengumpulkan sampel dari tikus dan memaparkan antibodi itu pada 10 strain SARS-CoV-2 yang berbeda dalam tabung reaksi. Strain berbeda SARS-CoV-2 diambil dari sampel pasien Tiongkok, Italia, Spanyol, Swiss, dan Inggris yang mewakili "sampai batas tertentu, populasi yang beredar" dari SARS-CoV-2.
Hasil injeksi antibodi menunjukkan vaksin mampu menetralkan berbagai strain, menunjukkan bahwa vaksin tersebut dapat "menunjukkan aktivitas netralisasi yang kuat terhadap strain SARS-CoV-2 yang beredar di seluruh dunia," tulis tim peneliti.
(wk/nidy)