Belum lama ini, para ilmuwan di Tiongkok mengungkapkan bahwa virus corona (COVID-19) tidak mungkin menghilang seperti virus SARS yang menyebar beberapa tahun silam.
- Luthfiatun Nisa
- Selasa, 28 April 2020 - 16:49 WIB
WowKeren - Sejumlah ilmuwan Tiongkok mengatakan virus corona (COVID-19) tidak akan bisa diberantas, dan menyebut bahwa patogen ini kemungkinan akan kembali dalam gelombang seperti flu yang muncul per tahun. Para ilmuwan tersebut juga mengklaim bahwa corona tidak mungkin menghilang seperti virus SARS yang menyebar beberapa tahun silam.
Dikutip dari The Jakarta Post pada Selasa (28/4), hal tersebut lantaran COVID-19 menginfeksi beberapa orang tanpa menyebabkan gejala yang jelas seperti demam. Mereka mengklaim bahwa para penderita pun mampu menyebarkan virus tanpa terdeteksi, dan inilah yang menjadi masalah utama.
Untuk kasus virus SARS, penderita yang terinfeksi akan mengalami sakit parah. Begitu mereka dikarantina, virus itu akan berhenti menyebar. Sebaliknya, Tiongkok hingga kini masih menemukan lusinan kasus virus corona yang tidak bergejala setiap hari meskipun mampu mengendalikan epidemi.
"Ini sangat mungkin menjadi epidemi yang hidup berdampingan dengan manusia untuk waktu yang lama, menjadi musiman dan berkelanjutan dalam tubuh manusia," kata Jin Qi, direktur Institute of Pathogen Biology di institut penelitian medial Tiongkok, Chinese Academy of Medical Sciences.
Sementara itu, Anthony Fauci, direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, pada bulan lalu juga mengatakan bahwa COVID-19 dapat menjadi penyakit musiman, seperti yang dibuktikan oleh kasus-kasus yang sekarang muncul di negara-negara di belahan bumi bagian selatan yang mulai memasuki musim dingin.
Sedangkan menurut Presiden AS Donald Trump, ia berharap bahwa penyebaran virus akan melambat ketika suhu di negara-negara belahan bumi utara meningkat pada musim panas. Kendati demikian, para ilmuwan Tiongkok mengatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti untuk menyetujui anggapan tersebut.
"Virus ini peka terhadap panas, tetapi saat itulah ia terpapar 56 derajat Celcius selama 30 menit dan cuaca tidak akan pernah sepanas itu," kata Wang Guiqiang, kepala departemen penyakit menular Rumah Sakit Universitas Peking. "Jadi secara global, bahkan selama musim panas, kemungkinan kasus turun secara signifikan kecil."
Sebagai informasi tambahan, saat ini kasus COVID-19 sendiri telah mencapai angka lebih dari 3 juta jiwa di seluruh dunia. Pandemi yang menyebar dari Wuhan ini juga telah menewaskan sebanyak lebih dari 211 ribu korban jiwa, dengan jumlah pasien sembuh mencapai angka 925,123.
(wk/luth)