Otoritas mencatat lebih dari 3 juta warga dunia terinfeksi virus Corona yang mulai mewabah sejak Januari 2020 tersebut. Hingga hari ini (29/4) 1 juta pasiennya tercatat berasal dari Amerika Serikat.
- Elvariza Opita
- Rabu, 29 April 2020 - 10:10 WIB
WowKeren - Jumlah kasus positif COVID-19 terus bertambah setiap harinya. Apalagi dengan semakin banyaknya negara yang mengonfirmasi keberadaan virus tersebut, maka semakin banyak pula jumlah pasien positif baru yang dilaporkan setiap harinya.
Hingga Rabu (29/4) pukul 09.00 WIB, tercatat ada 3.138.115 orang di dunia yang positif terjangkit COVID-19. Jutaan kasus ini tersebar di 210 negara dan wilayah.
Namun yang membuat publik terkejut adalah fakta bahwa sepertiga kasus itu berada di Amerika Serikat. Dilansir dari situs worldometers.info, tercatat ada 1.035.765 orang di Negeri Paman Sam yang positif terinfeksi virus SARS-CoV-2.
Total korban jiwa yang timbul akibat pandemi Corona sendiri secara global mencapai 217.970 orang. Hampir 30 persennya atau sekitar 59.266 orang tercatat berasal dari AS.
Dengan demikian AS semakin jauh meninggalkan negara-negara paling terdampak COVID-19 lain. Sebagai pembanding, Spanyol yang berada di urutan kedua dunia saja hanya mengonfirmasi 232.128 kasus, atau sekitar seperempat dari total kasus di AS.
Memang angka ini tak bisa ditafsirkan secara sederhana. Apalagi mengingat jumlah populasi warga AS jauh lebih banyak daripada negara-negara lain terutama Eropa.
Namun. dilansir dari The Hill, penanganan Corona di AS sejauh ini masih jauh dari memuaskan. Sebab negara-negara terdampak lain sudah mulai menunjukkan penurunan dari segi laju penambahan kasus, sedangkan AS masih terjebak di kurva yang sangat curam.
Bahkan Direktur Pusat Penelitian dan Pencegahan Penyakit Menular Universitas Minnesota, Michael Osterholm, menilai AS masih jauh dari kata "normal". Ia menganalogikan saat ini negara adidaya itu sedang berada di lereng dan akan menghadapi gunung yang tinggi, pertanda akan ada lonjakan kasus yang lebih parah.
"Kita sedang berada dalam fase pembuka," kata Osterholm, dilansir pada Rabu (29/4). "Kita bukannya sedang ada di gunung, kita masih ada di lereng. Gunungnya masih harus kita hadapi setelah ini."
Sampai saat ini AS terus berjibaku dengan wabah Corona yang seolah tak mereda barang sedikit pun. Tes massal dilakukan dimana-mana demi mencegah munculnya kasus tak teridentifikasi.
(wk/elva)