AS Mulai Tabuh Genderang 'Perang' Ke Tiongkok, Rupiah Terancam Melemah
Nasional

Amerika Serikat (AS) mulai menabuh genderang ‘perang’ ke Tiongkok setelah mengancam akan menaikkan bea impor. Hal ini membuat rupiah terancam terus melemah.

WowKeren - Perselisihan antara Pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok kembali terjadi lagi. Hal ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menaikkan bea impor dari Tiongkok ke negaranya.

Keputusan Trump tersebut didasari akibat adanya pandemi virus corona (COVID-19). Sontak, ancaman Trump menimbulkan kekhawatiran bahwa perang dagang antara dua raksasa ekonomi global akan kembali terjadi dan justru membuat prospek ekonomi dunia semakin memburuk.

Trump sendiri menyalahkan Tiongkok yang dinilai tidak bisa menangani pandemi virus corona yang pertama kali muncul di Wuhan tersebut. Akibatnya, sekitar 30,3 juta warga AS harus kehilangan pekerjaannya dan ekonomi Negeri Paman Sam mengalami kontraksi terdalam sejak 2008.

Kenyataan tersebut membuat Trump sangat gusar. Ia sekarang terus menyorot peran Tiongkok yang dianggapnya sebagai sumber masalah utama pandemi yang saat ini merebak. Kesepakatan dagang antara kedua negara ini pun akan dinomorduakan saat ini.

”Kami menandatangani kesepakatan perdagangan di mana mereka seharusnya membeli, dan mereka sebenarnya telah membeli banyak. Namun sekarang itu menjadi prioritas kedua akibat virus ini,” ujar Trump seperti dilansir dari CNBC, Senin (5/4). “Situasi (merebaknya) virus tidak dapat diterima.”


Kini, memburuknya hubungan kedua negara tersebut berpotensi membuat rupiah semakin melemah. Hal ini terlihat dari rontoknya bursa saham di hari Jumat (1/5) lalu dan kemungkinan berpengaruh juga di awal pekan ini.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga tidak berdaya di perdagangan pasar spot, dengan depresiasi lebih dari 1 persen.

Pada Senin (4/5), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp15.073. Hal ini menunjukkan jika rupiah melemah 0,55 persen dibandingkan posisi sebelum libur Hari Buruh.

Padahal, sepanjang pekan lalu rupiah begitu perkasa melawan dolar Amerika Serikat (AS) setelah membukukan penguatan 3,42 persen ke Rp 14.825/US$. Selain itu, rupiah juga mencatat quattrick atau penguatan empat pekan beruntun. Bahkan mata uang Asia dan Eropa semua dilibas oleh rupiah.

Quattrick tersebut menjadikan rupiah begitu menguat dan konsisten sepanjang bulan April. Tidak tanggung-tanggung, penguatan Mata Uang Garuda ini mencapai 9,05 persen dan membukukan kinerja bulanan terbaik sejak Desember 2008, saat itu rupiah 9,21 persen.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait