Turki diketahui memproduksi APD sendiri untuk tenaga medis di negaranya secara gratis. Namun Inggris mengklaim bahwa 400 ribu APD yang diimpor dari Turki tak memenuhi standar.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 08 Mei 2020 - 09:23 WIB
WowKeren - Turki dianggap sebagai salah satu negara yang sigap menangani pandemi virus corona (COVID-19) usai mencatat lebih dari 5 ribu pasien sembuh dalam kurun waktu 24 jam. Kendati demikian, pemerintah Inggris justru mengatakan alat pelindung diri (APD) di Turki tak memenuhi standar kelayakan.
Turki diketahui memproduksi APD sendiri dan memberikan masker kepada warga negaranya dan penduduk resminya secara gratis. Namun Inggris mengklaim bahwa 400 ribu APD yang diimpor dari Turki justru disimpan di gudang karena tidak memenuhi standar. Sebelumnya APD itu diharapkan dapat meringankan kebutuhan APD untuk petugas medis.
"Kami merasa kualitas 400 ribu jubah medis tidak cukup baik untuk petugas garda depan kami yang merawat pasien virus corona," kata Menteri Irlandia Utara, Brandon Lewis.
Pengiriman ini menjadi sesuatu yang memalukan bagi pemerintah Inggris. Karena pada 18 April lalu para menteri Inggris mengatakan APD itu akan tiba keesokan harinya. Tapi butuh empat hari hingga akhirnya pesawat Angkatan Udara mengangkut kargo berisi APD ke Inggris.
Seperti sebagian besar negara lain, Inggris juga diketahui mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan APD petugas medis. Petugas medis sangat membutuhkan APD saat merawat pasien virus korona agar mereka tidak tertular COVID-19.
"Ini pandemi global membuat banyak negara yang memperoleh APD memicu kekurangan di seluruh dunia, tidak hanya Inggris," kata Departemen Kesehatan Inggris.
Sejak awal April banyak petugas medis yang mengkritik pemerintah yang mereka nilai terlalu lambat dalam respon dan tidak siap menghadapi pandemi. Banyak dokter dan perawat di Inggris yang mengatakan mereka terpaksa merawat pasien tanpa APD yang memadai.
Kemudian pada 11 April Asosiasi dokter Inggris, British Medical Association (BMA), mengatakan para petugas medis terpaksa merawat pasien tanpa APD yang memadai dan membahayakan nyawa mereka sendiri. "Tidak ada dokter yang harus berada dalam bahaya ketika mereka bekerja, dan di masa yang tak biasa ini, hal ini lebih penting daripada sebelumnya," kata ketua BMA Dr Chaand Nagpaul.
Sementara banyak negara Eropa membutuhkan lebih banyak APD (alat pelindung diri) dan tidak dapat menyediakan peralatan yang cukup untuk tenaga medis, Turki memproduksi APD sendiri dan memberikan masker kepada warga negaranya dan penduduk resminya secara gratis.
Tak hanya itu, meskipun jumlah kasus COVID-19 meningkat di Turki, mencapai hampir 120 ribu, tingkat hunian ICU di rumah sakit masih belum mencapai 70 persen. Turki tercatat memiliki jumlah tempat tidur ICU terbesar per 100 ribu orang dibandingkan kebanyakan negara Eropa.
(wk/luth)