Ilmuwan medis saat ini tengah berusaha mencari 'obat sementara' untuk penanganan pasien COVID-19 selama belum ditemukannya vaksin. Salah satu obat yang tengah diuji coba saat ini adalah obat radang sendi atau Actemra.
- Nidya Putri
- Jumat, 08 Mei 2020 - 15:24 WIB
WowKeren - Hingga saat ini obat atau vaksin untuk virus corona (COVID-19) masih belum ditemukan. Para ilmuwan medis pun terus melakukan upaya untuk menemukan obat yang bisa meredakan kondisi pasien COVID-19.
Sejumlah uji coba menggunakan obat-obatan dari berbagai macam penyakit pun dilakukan demi mencari terapi yang bisa digunakan untuk membantu penanganan pasien COVID-19. Salah satu obat yang saat ini tengah diteliti kemampuannya untuk menangani pasien COVID-19 adalah Actemra.
Sekedar informasi, Tocilizumab atau beredar dengan nama Actemra, adalah obat radang sendi yang dimaksud. Obat ini biasanya dikonsumsi oleh penderita artritis untuk membantu mengurangi peradangan kronis.
Namun, beberapa waktu lalu dikabarkan jika obat tersebut bisa digunakan untuk menolong pasien virus corona yang mengalami kondisi berat. Saat ini, ada 6 pasien infeksi virus corona yang mendaftarkan diri dalam uji klinis tahap akhir untuk menguji Actemra.
Dikutip dari Business Insider, Kepala Global Imunologi Genentech untuk Penyakit Menular dan Pengembangan Klinis Oftamologi, Mark Eisner, mengatakan, studi ini telah mendaftarkan pasien pertama pada Jumat (1/5) di Amerika Serikat dan Spanyol. Melalui uji coba ini, akan dilihat apakah Actemra yang merupakan obat anti-inflamasi untuk radang sendi mampu membantu pasien kasus parah menjadi sembuh.
Secara keseluruhan, dalam studi ini, akan ada 330 orang di seluruh dunia yang menjalani uji coba. Hasilnya diharapkan akan keluar saat awal musim panas.
Adapun syarat pasien untuk mengikuti uji klinis ini adalah mereka yang memiliki kasus COVID-19 parah yang ditandai dengan pneumonia dan perlu menjalani rawat inap. Pasien yang terdaftar akan secara acak menerima infus Actemra IV dan beberapa plasebo yang sesuai.
Selama satu bulan, dokter akan melihat status klinis mereka berdasarkan tujuh skala kategori untuk melihat apakah kondisi pasien membaik atau memburuk. Uji ini diharapkan dapat menjawab apakah Actemra dapat memberi manfaat pada pasien yang parah atau tidak.
Uji coba ini awalnya muncul setelah ada laporan di Tiongkok yang menyebutkan bahwa Actemra manjur untuk penanganan pasien COVID-19. Actemra merupakan obat yang diproduksi oleh Genentech, anak perusahaan farmasi Swiss, Roche. Namun, cara kerja Actemra bukan memerangi virus secara langsung.
Yang dimanfaatkan dari obat ini adalah perannya dalam menghambat Interleukin 6 (IL-6). IL-6 adalah sitokin yang memainkan peran penting dalam respons imun. Meski demikian, IL-6 kerap memainkan peran dalam mengatasi keparahan suatu penyakit seperti pada penyakit autoimun, multiple myeloma, dan kanker prostat.
Dalam kasus COVID-19, respons imun yang terlalu aktif dapat merusak paru-paru. Melalui uji klinis ini, akan diketahui apakah obat mampu bertindak untuk mengatasi badai sitokin yang timbul.
βIni adalah hipotesis yang sangat bagus. Tetapi membutuhkan pengujian ketat dalam uji klinis agar kami dapat memberikan dokter, pasien, keluarga mereka, pemangku kepentingan lainnya, jawaban yang jelas dan pasti untuk apa yang dapat dilakukan atau tidak dilakukan Actemra pada penyakit ini,β kata Eisner.
Namun, penggunaan Actemra ini memerlukan pemantauan konstan karena jika penggunaannya tidak tepat akan menyebabkan kondisi memburuk. Adapun efek samping obat ini secara serius adalah masalah pada lambung dan usus, neutrofil dan trombosit rendah dan peningkatan risiko kanker.
(wk/nidy)