Ini Alasan Mengapa Puncak Pandemi Corona di Indonesia Susah Diprediksi
Nasional

Puncak pandemi corona di Tanah Air sempat diprediksi terjadi pada bulan Mei hingga Juni. Pakar epidemiologi Laura Navika lantas mengungkapkan hal yang dapat mengubah prediksi tersebut.

WowKeren - Prediksi puncak pandemi corona atau COVID-19 di Indonesia beberapa kali mengalami pergeseran. Hal ini rupanya berkaitan dengan jumlah tes COVID-19 yang dilakukan di Tanah Air.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, sempat menyatakan bahwa pemerintah telah memeriksa lebih dari 9 ribu spesiman dalam sehari pada Jumat (8/5) pekan lalu. Keesokan harinya, yakni pada Sabtu (9/5), Indonesia mencatat lonjakan kasus COVID-19 tertinggi dalam sehari yang mencapai 533 kasus.

Meski demikian, angka pengetesan corona kembali turun ke rata-rata 4 ribu hingga 5 ribu per hari. Lonjakan kasus corona dalam sehari pun turut menurun pula.

Pakar epidemiologi Laura Navika lantas menilai bahwa jumlah kasus baru COVID-19 tampak menurun karena jumlah tes juga berkurang. Hal ini disebutnya bisa menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat.


"Jangan-jangan kasus menurun bukan karena memang riil menurun...Jangan-jangan per hari itu (di mana angka turun itu) memang tidak dilakukan pemeriksaan," tutur Laura dilansir detikcom pada Selasa (12/5). "Bisa jadi penurunan palsu. Akibatnya, orang awam bisa berpikir kasusnya mereda, dan bisa muncul keinginan untuk beraktivitas di luar."

Lebih lanjut, Laura menyebut bahwa jumlah pengetesan per hari yang tidak konsisten ini dapat mempengaruhi prediksi puncak pandemi corona di Indonesia. Sebelumnya, puncak pandemi corona di Tanah Air sempat diprediksi terjadi pada bulan Mei hingga Juni.

"Ya jadi sulit diprediksi. Memang prediksi puncak pandemi itu berbasis data yang sudah dikumpulkan hari per hari. Jika ada kekacauan spesimen dan kualitas datanya tidak baik, itu akan mempengaruhi kualitas prediksi," ujar Laura. "Prediksinya akan berubah, bergeser."

Sementara itu, jumlah tes corona di Indonesia masih belum bisa konsisten per harinya karena adanya kelangkaan reagen. Sebagai informasi, reagen adalah cairan yang digunakan untuk pengetesan COVID-19, di sejumlah daerah.

Selain kelangkaan reagen, jumlah petugas laboratorium yang terbatas juga menjadi salah satu faktornya. Doni Monardo sendiri mengaku bahwa pihaknya berencana merekrut anggota TNI dan Polri untuk melakukan pengujian di rumah sakit tentara maupun Polri.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait