Penjarahan apotek ini terjadi di sejumlah kota dan menimbulkan kerugian besar. Para apoteker mengaku sangat khawatir, terutama terhadap pasien yang akan tertunda mendapatkan obat resep dokter.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 05 Juni 2020 - 09:12 WIB
WowKeren - Apotek di Amerika Serikat (AS) rupanya turut jadi sasaran para penjarah saat berlangsungnya aksi demonstrasi besar-besaran dalam sepekan terakhir yang dipicu oleh kematian pria kulit hitam bernama George Floyd di tangan polisi Minneapolis.
Dilansir dari USA Today pada Jumat (5/6), penjarahan apotek ini terjadi di sejumlah kota. Salah satu laporan menyebut bahwa penjarah menghancurkan kaca toko obat CVS Pharmacy di kawasan Friendship Heights, Washington DC. Sesaat kemudian, pencuri mengambil sejumlah barang, termasuk obat-obatan yang seharusnya didapatkan dengan resep dokter.
Dilaporkan bahwa banyak botol obat-obatan yang berserakan di sekitar apotek CVS itu. Mulai dari obat penghilang rasa sakit, obat kontrol kehamilan, obat kolesterol, obat penekan sistem saraf pusat, hingga antidepresan. Tampak pula para penjarah tertawa dan berteriak usai berhasil melakukan penjarahan.
The New York Times juga melaporkan kejadian serupa di New York. Jaringan toko obat SOHO turut mendapatkan imbas atas aksi demonstrasi ini. Disebutkan bahwa apotek tersebut ikut hancur dan dijarah oleh demonstran yang tak bertanggung jawab.
Kasus lainnya terjadi di Minneapolis. Seorang pemilik apotek di kawasan tersebut menyaksikan rekaman kamera CCTV yang menampilkan para penjarah mengeksekusi rak-rak toko Farmasi Seward miliknya. Ia juga melihat para penjarah menyalakan api kecil di bagian belakang toko.
Kepada outlet setempat, pemilik toko tersebut mengaku dirinya sangat khawatir, terutama terhadap pelanggan karena mereka akan tertunda mendapatkan obat resep. "Itu adalah mimpi buruk bagi seorang apoteker," katanya.
Sementara itu, George Floyd sendiri adalah seorang warga kulit hitam yang pekan lalu ditangkap oleh polisi Minneapolis. Ia tewas setelah dijatuhkan ke tanah kemudian lehernya dijepit menggunakan lutut.
Rekaman video yang beredar menunjukkan leher Floyd ditekan oleh petugas kepolisian Derek Chauvin selama 8 menit 46 detik. Chauvin dan ketiga rekannya kemudian dipecat dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga oleh departemen kehakiman. Kendati demikian, kematian Floyd masih menimbulkan demonstrasi besar-besaran di AS.
Kematian Floyd juga kembali membuka luka lama akan rasialisme yang dirasakan oleh banyak warga Afrika-Amerika, khususnya terkait pembunuhan dan tindakan sewenang-wenang oleh polisi, seperti pembunuhan Michael Brown pada Agustus 2014 di Ferguson, Missouri, dan Eric Garner pada Juli 2014 di New York. Aksi protes untuk menuntut keadilan bagi Floyd menyebar di 140 kota di seluruh AS pada akhir pekan lalu, dan banyak berujung kerusuhan.
(wk/luth)