Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menanggapi aksi penolakan warga ini sebagai tantangan pemerintah dalam mengedukasi masyarakat.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 09 Juni 2020 - 08:14 WIB
WowKeren - Sejumlah pemerintah daerah menggencarkan pelaksanaan rapid test sebagai upaya deteksi dini penularan virus corona (COVID-19). Dengan melakukan deteksi dini maka angka penularan bisa ditekan. Namun rupanya, tidak semua warga mau bekerjasama.
Seperti yang terjadi di Makassar belum lama ini. Sejumlah warga bahkan nekat memblokir jalan dan memasang spanduk penolakan rapid test.
"Yang kami ketahui warga sempat memblokir jalan karena terpapar info hoaks," ujar Lurah Malimongan Muhammad Arwan Umar seperti dilansir detikcom, Selasa (9/6). "Bahwa akan datang mobil ambulans dengan tim medis berpakaian seperti astronot akan melakukan rapid test door to door."
Terkait hal ini, juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto angkat bicara. Ia menyebut hal ini sebagai tantangan dalam mengedukasi masyarakat. "Ini tantangan edukasi Pemda (pemerintah daerah)," kata dia masih dilansir detikcom.
Sebab menurutnya, aksi penolakan ini terjadi lantaran kurangnya edukasi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, ia meminta Pemda setempat untuk lebih menekankan edukasi ini. "Edukasi terus, tidak hanya pakai jalur formal, libatkan tokoh non formal yang jadi panutan masyarakat," ucap Yuri.
Salah seorang warga di Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar membenarkan adanya pemasangan spanduk penolakan tersebut. "Kami pasang di setiap gang masuk lorong, ada 4 spanduk kami pasang, intinya ada di setiap gang," ujar Arul.
Warga khawatir dengan hasil positif jika dilakukan tes massal tersebut. "Kita khawatir rapid test karena biasa tidak COVID tapi divonis COVID. Baru di sini banyak lansia, jadi kami tolak," lanjutnya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Makassar menggandeng TNI-Polri untuk menurunkan spanduk warga tersebut. PJ Wali Kota Makassar Yusran Jusuf mengatakan jika penolakan tersebut terjadi karena ada kesalahpahaman.
"Kelurahan Camba Berua (Kecamtan Ujung Tanah) 10 lorong yang memasang spanduk menolak rapid test sudah kami turunkan," kata dia. "Bersama Babinsa dan Kamtibmas Camba Berua sudah kami turunkan, berkoordinasi bersama RT setempat."
(wk/zodi)