Fraksi NasDem menilai jika new normal sebaiknya diterapkan di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jakarta. Dengan catatan masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 09 Juni 2020 - 13:33 WIB
WowKeren - Wakil Ketua Komisi V DPR Fraksi NasDem Syarif Abdullah mengkritik penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi di DKI Jakarta. Menurutnya, penerapan PSBB transisi di Jakarta tidak jelas lantaran sudah terjadi banyak keramaian.
Ia menilai jika tatanan kehidupan normal baru atau new normal sebaiknya diterapkan secara menyeluruh di Indonesia. Tidak hanya dikhususkan di daerah tertentu.
"Kalau terus begini juga tidak jelas, PSBB atau bebas," kata Syarif dilansir CNN Indonesia, Selasa (9/6). "Ini artinya bermasalah terus, sementara kehidupan ekonomi semakin terpuruk. Sama ratakan saja se-Indonesia dengan new normal itu."
PSBB transisi Jakarta telah diterapkan sejak Jumat (5/6) lalu. Di masa ini, sejumlah pelonggaran diberikan dibanding PSBB sebelumnya. Misalnya, perkantoran boleh mempekerjakan pegawainya, tetapi maksimal 50 persen dari kapasitas gedung. Begitu pula dengan pusat perbelanjaan yang rencananya akan dibuka pekan depan.
Tak terkecuali angkutan transportasi massal. Pada masa PSBB transisi ini banyak pegawai yang kembali bekerja di kantor masing-masing. Akibatnya, penumpang KRL dari kota di sekitar Jakarta membludak.
Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar new normal diterapkan di seluruh Indonesia namun harus dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. "Tetapkan new normal saja. Artinya memulai kehidupan baru itu dengan protokol kesehatan itu yang seharusnya diperhatikan," kata Syarif.
Hingga kini, new normal masih belum diberlakukan di Indonesia. Sejumlah wilayah masih dalam fase transisi. Rencananya, akan ada 4 provinsi yang diprioritaskan untuk bisa menerapkan new normal lebih dahulu, yakni DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Barat dan Gorontalo.
Sedangkan penerapan new normal dinilainya penting untuk bisa lebih cepat menggerakkan roda perekonomian. Meskipun ada risiko penularan, namun ia menganggap hal itu bisa diminimalisir.
"Paling tidak, tidak bersentuhan, paling penting jaraknya harus inilah tidak bersentuhan fisik. Kalau masker kita pakai, menggunakan protokol kesehatan, saya kira bisa diminimalkan terpapar virus corona," ujarnya.
(wk/zodi)