Indeks Penularan Tertinggi di Indonesia, Sulsel Jadi Provinsi Paling Rawan COVID-19
Reuters/Arnas Padda
Nasional

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah menyebut jika kendala utama penanganan COVID-19 di Makassar adalah adanya hoaks yang masif sehingga membuat warga terpengaruh.

WowKeren - Sejumlah wilayah di Indonesia masih mencatat jumlah kasus COVID-19 yang cukup tinggi, salah satunya Provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengatakan jika lonjakan kasus di wilayahnya berkaitan dengan langkah Pemkot yang memberikan pelonggaran.

"Yang (zona) merah Makassar karena kemarin ada pelonggaran Pemkot sehingga kita agak kesulitan juga," kata Nurdin saat konferensi pers dengan BNPB, Rabu (10/6). "Padahal kita berharap Makassar ini episentrum utama, kita ingin Makassar lebih cepat lagi."

Padahal, Nurdin menargetkan jika Makassar akan bebas dari penularan virus corona pada akhir Mei. Tentu saja, hal ini diharapkannya bisa terwujud jika masyarakat taat menjalankan protokol kesehatan.

"Makanya saya imbau, kalau kita taat," kata Nurdin Mei silam. "Insya Allah, Mei ini kita akan selesai dengan corona ini."


Dilansir dari situs The Bonza, Kamis (11/6), indeks penularan (Rt) Sulawesi Selatan berada di angka 1,59. Hal ini memposisikan Sulsel sebagai provinsi dengan Rt tertinggi di Indonesia, dengan Makassar sebagai episenter wabah.

Kembali ke Nurdin, ia menyebut jika kendala utama penanganan COVID-19 di Makassar adalah terciptanya hoaks yang masif. Ini membuat masyarakat menjadi abai terhadap protokol kesehatan yang diserukan oleh pemerintah.

"Masalah yang kita hadapi adalah sekelompok orang yang terus melakukan berita hoaks," kata Nurdin. "Dan membuat masyarakat jadi bimbang."

Hoaks yang berkembang kata Nurdin, menyatakan bahwa virus corona adalah media sebagian kalangan untuk memperkaya diri. Akibatnya, ada kalangan di masyarakat yang terpengaruh. "Ada skenario COVID-19 itu memperkaya dokter, rumah sakit, itu kan menyesatkan, masyarakat jadi terpengaruh," ujarnya.

Bahkan sebelumnya, warga Makassar ramai-ramai menolak rapid test. Mereka khawatir dengan hasil jika mereka benar-benar positif COVID-19. "Kita khawatir rapid test karena biasa tidak COVID tapi divonis COVID. Baru di sini banyak lansia, jadi kami tolak," ujar Arul, salah seorang warga dilansir detikcom, Kamis (11/6).

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait