Indonesia diketahui telah mencatat 34.316 kasus positif COVID-19 per Rabu (10/6) kemarin. Dari jumlah tersebut, 1.959 pasien COVID-19 dinyatakan telah meninggal dunia.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 11 Juni 2020 - 15:01 WIB
WowKeren - Indonesia menjadi negara dengan tingkat kematian COVID-19 tertinggi di wilayah Asia Tenggara atau ASEAN. Indonesia bahkan menyumbang hampir dua pertiga kematian akibat virus corona di wilayah ASEAN.
Indonesia diketahui telah mencatat 34.316 kasus positif COVID-19 per Rabu (10/6) kemarin. Dari jumlah tersebut, 1.959 pasien dinyatakan meninggal dunia.
Dengan demikian, Indonesia menyumbang 61,31 persen kematian akibat COVID-19 di antara 10 negara ASEAN. Kematian akibat virus corona di kawasan Asia Tenggara sendiri kini telah mencapai 3.195 kasus.
Di bawah Indonesia ada Filipina yang melaporkan 1.027 kematian dari total 23.732 kasus COVID-19. Kemudian ada Malaysia yang mencatat 118 kematian dari 8.338 kasus dan Thailand yang mencatat 58 kematian dari 3.125 kasus COVID-19.
Sementara itu, ada sejumlah negara ASEAN yang mencatat nihil kematian akibat virus corona. Di antaranya adalah Vietnam, Kamboha, dan juga Laos.
Meski menjadi negara penyumbang kematian tertinggi, Indonesia bukanlah negara dengan jumlah kasus positif COVID-19 tertinggi di ASEAN. Melansir worldometer, negara ASEAN dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi adalah Singapura, dengan 38.965 kasus.
Meski demikian, Singapura hanya mencatat 25 kematian akibat virus corona hingga Kamis (11/6) pagi. Dengan demikian, tingkat kematian akibat virus corona di Singapura hanya sebesar 0,06 persen dari jumlah kasus keseluruhan. Tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia sendiri kini mencapai 5,7 persen.
Adapun tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia ini sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata global. Berdasarkan data Worldometer, kematian akibat virus corona di seluruh dunia mencapai 418.872 orang dari 7.451.523 kasus atau sebesar 5,62 persen dari jumlah kasus keseluruhan.
Namun jumlah aktual kematian akibat virus corona di Indonesia sendiri bisa jadi lebih tinggi ketimbang yang dikonfirmasi oleh pemerintah. Sejumlah ahli menilai hal tersebut bisa saja disebabkan oleh lambatnya hasil tes PCR yang mengakibatkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal bisa saja sebenarnya disebabkan oleh virus corona, namun belum masuk ke dalam catatan resmi pemerintah.
(wk/Bert)