Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi, membeberkan beberapa situasi 'aneh' terkait kasus-kasus meninggal dan sembuh Corona, terutama di daerah Surabaya.
- Elvariza Opita
- Jumat, 12 Juni 2020 - 16:48 WIB
WowKeren - Perkembangan wabah virus Corona di Jawa Timur termasuk yang sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Bahkan Presiden Joko Widodo secara khusus meminta perkembangan kasus di Jatim dipantau.
Untuk informasi, bahkan pada hari ini, Jumat (12/6), Jatim melaporkan sebanyak 318 kasus positif baru, atau nyaris 30 persen dari total kasus harian. Sementara jumlah pasien meninggalnya pun setengah dari total nasional, yakni sebanyak 22 dari 48 yang dikonfirmasi hari ini.
Kondisi ini pun tak lepas dari pemantauan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim. Belum lama ini, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Jatim, dr Joni Wahyuhadi membeberkan hal-hal yang masih menimbulkan tanda tanya di kalangan para tenaga medis terkait para pasien meninggal.
"Meninggalnya seseorang itu Allah SWT yang menentukan," ujar Joni di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (11/6). "Saya dipercaya Ibu Gubernur untuk memimpin rumah sakit besar RSUD dr Soetomo. Setiap hari sebetulnya saya angkles (sedih), saya nangis setiap hari."
Namun Joni mengakui bahwa kematian para pasien Corona di Jatim bak sama sekali tak bisa diprediksi. Seperti ada pasien berusia 38 tahun yang dirawat di ICU dan sempat membaik kondisinya. Alhasil tim medis pun memindahkannya ke HCU, yang ternyata kemudian menjadi "tempat terakhirnya" sebelum meninggal dunia.
"Hari ke-7 lepas ventilator bisa duduk. Kita pindahkan ke HCU dari ICU, hari ke-2 tahu-tahu meninggal," ceritanya, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (12/6). "Meninggalnya itu seperti orang serangan jantung. Mendadak sekali."
Namun tak sedikit pula pasien yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan sampai sempat tak sadarkan diri, namun malah diberi kesembuhan. "Sekarang pulang badannya gemuk, betul ini," katanya.
Situasi ini tak pelak membuat para tenaga medis dan ahli bingung. Bahkan ia sudah mengonsultasikannya dengan rekan-rekan sejawat dari berbagai rumah sakit besar sampai Kementerian Kesehatan namun belum ada jawaban pastinya.
"Perjalanan penyakit seorang menderita COVID-19 itu unpredictable," tutur Joni. "Banyak kawan-kawan yang para ahli itu bertanya-tanya sebetulnya apa rahasia dibalik COVID-19 ini."
Lebih lanjut, sejauh ini pasien meninggal di Jatim justru didominasi oleh mereka yang masuk fase pascaventilator atau sudah mencoba kembali bernapas normal tanpa alat bantu. Memang fase ini sangat rentan, dan di RSUD dr Soetomo sendiri mencapai 69,2 persen.
"Pascaventilator kalau di Soetomo itu 69,2 persen yang meninggal, tetapi di RS Persahabatan lebih tinggi, di Wuhan 80 persen," pungkasnya. "Bukan kita merasa lebih aman (karena lebih sedikit), tidak, tapi semuanya bertanya-tanya, why?"
Karena itulah Joni mengimbau agar masyarakat Jatim lebih meningkatkan kewaspadaannya terhadap wabah virus Corona. Jangan sesumbar "menantang" penyakit ini.
(wk/elva)