Gugus Tugas COVID-19 Surabaya menyebut Pemprov Jatim sudah memberikan data pasien Corona yang benar-benar berbeda dengan kondisi di lapangan. Tudingan itu pun mendapat klarifikasi seperti berikut.
- Elvariza Opita
- Kamis, 18 Juni 2020 - 21:04 WIB
WowKeren - Kisruh yang terjadi antara Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengatasi wabah virus Corona kembali terjadi. Kali ini Pemkot menuding ada kesalahan data terkait Corona yang dimiliki Pemprov.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya menuding Pemprov Jatim tak turun langsung ke lapangan untuk menghimpun data tersebut. Alhasil kesalahan data yang terjadi angkanya begitu besar, bahkan mencapai 50 persen.
Tudingan itu sampai ke telinga Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim. Salah satu anggotanya yang juga merupakan Sekretaris Daerah Jatim, Heru Tjahjono, membantah bila pihaknya dituduh memberikan data kasus positif Corona yang tidak valid.
Heru menegaskan pihaknya sudah menghimpun data yang riil sesuai di lapangan. Data itu dihimpun dari proses pelacakan (tracing), laporan masyarakat, BNPB dan dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota.
"Selain mencari, ada laporan, dari dinas kabupaten/kota, dan kita cek juga," jelas Heru di Surabaya, Kamis (18/6). "Kita dibantu BNPB, ada dari dinas, dan tidak mungkin (tidak valid). Sekali lagi nggak mungkin, ini adalah perang kita dengan COVID-19."
Lebih lanjut, Heru menjelaskan pihaknya tak hanya mengandalkan data yang bersumber dari kegiatan lapangan. Data yang didapat Pemprov Jatim juga sudah diolah oleh para ahli terkait dan menjadi dosa untuk pihaknya bila memberikan data yang tidak valid.
"Jadi pemerintah provinsi tidak akan melakukan informasi berupa data yang tidak didasari oleh satu kondisi lapangan, data itu diolah oleh pakar-pakar," tutur Heru, seperti dilansir dari CNN Indonesia. "Kita tidak mungkin mengeluarkan data yang tidak sesuai dengan lapangan, berdosa."
Heru juga menegaskan Pemprov Jatim menyusun data sudah sesuai dengan domisili masing-masing pasien. Nantinya data dari petugas lapangan, sesuai dengan domisilinya, akan kembali diverifikasi sebelum dipublikasikan.
"Misalnya ya, sakitnya di Sidoarjo, tinggalnya Surabaya. Nah itu sudah di-clear-kan," tegas Heru. "Tidak mungkinlah (data salah), urusannya dengan orang mati."
(wk/elva)