Takut harus menjalani rapid test COVID-19, warga sekampung di Serang memilih berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka demi menghindari tes virus corona.
- Ruth Meliana
- Jumat, 19 Juni 2020 - 10:36 WIB
WowKeren - Sebuah kejadian unik baru-baru ini terjadi di wilayah Serang, Banten. Pasalnya, warga sekampung di Serang berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka demi menghindari rapid test virus corona (COVID-19).
Warga sekampung tersebut berasal dari wilayah Kampung Masigit, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Mereka telah dijadwalkan untuk menjalani rapid test pada Senin (15/6) kemarin.
Namun karena takut, warga kampung langsung mengungsi pada pukul 02.00 WIB saat dini hari. Hasilnya, di kampung tersebut tinggal tersisa anak muda dan bapak-bapak saja.
Warga setempat mengaku takut dengan hasil rapid test jika menjalaninya. Pasalnya, jika ada warga yang positif terinfeksi virus corona maka mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit. Kini, total ada sekitar 100 orang atau 70 persen dari warga kampung tersebut yang mengungsi.
”Memang ada informasi bahwa di sini akan ada rapid test pada Senin pagi,” ungkap warga setempat yang enggan disebutkan namanya, dilansir dari Kompas, Senin (15/6). “Tapi, ternyata jam 2 sampai jam 3 subuh itu warga pada kabur. Ada yang ke rumah saudaranya di Ciceri, pokoknya pergi dari rumahnya.”
“Ada lebih dari 100 (warga) yang mengungsi, sekitar 70 persen warga di Kampung Masigit sudah mengungsi,” sambungnya. “Sekarang ini tersisa para pemuda dan bapak-bapak saja untuk berjaga. Kalau yang anak-anak, perempuan dan yang sakit sudah diungsikan.”
Warga setempat juga tidak mau disalahkan karena memutuskan untuk kabur. Menurut salah satu warga yang belum mengungsi, hal ini merupakan kesalahan dari pemerintah setempat yang sama sekali tidak melakukan sosialisasi yang baik terkait diadakannya rapid test.
“Seharusnya ada yang menjelaskan kepada masyarakat bahwa rapid test ini tidak akan menyengsarakan mereka,” ungkap warga tersebut. “Ini demi kebaikan bersama. Saya sudah mencoba menenangkan, tapi kan masyarakat tidak peduli, saya bukan siapa-siapa.”
Sementara itu, Camat Kasemen yang bernama Gholib Abdul Mutholib membenarkan jika warga di Kampung Masigit panik dengan rapid test. Ia juga membeberkan hal tersebut tidak hanya terjadi di wilayah itu, namun juga beberapa kampung lainnya di Kelurahan Mesjid Priyayi.
”Yah kalau dari kecamatan atau kelurahan itu enggak ada. Soalnya itu kan masalah kesehatan, jadi harus orang yang benar-benar dari Dinas Kesehatan yang melakukan sosialisasi,” terang Gholib. “Kalau dari kami kan khawatir tidak benar sosialisasinya. Tapi, kalau sosialisasi pengumuman dari pemerintah, itu pasti kami teruskan hingga RT.”
(wk/lian)