Deretan Kisah Warga Yang Takut Rapid Test Hingga Keluarkan ‘Jurus’ Pencegahan Kocak
Nasional

Berikut merupakan berbagai kisah terkait adanya warga yang takut menjalani rapid test COVID-19 hingga mengeluarkan berbagai ‘jurus’ pencegahan yang kocak.

WowKeren - Pemerintah Indonesia terus menggencarkan rapid test secara massal di Tanah Air demi menekan penyebaran COVID-19. Namun, ternyata banyak kasus penolakan tes virus corona di sejumlah wilayah Indonesia.

Penolakan warga untuk menjalani rapid test didasari karena banyak yang merasa takut. Bahkan, sejumlah warga yang ketakutan sampai menangis dan berusaha mengeluarkan berbagai cara kocak demi menghindari rapid test.

Berikut merupakan sederet aksi tak biasa yang dilakukan sejumlah warga dalam menghindar dari rapid test:

1. Hindari rapid test, warga mengungsi ke pulau lain

Puluhan warga di Kota Sorong, Papua Barat memilih mengungsi ke pulau lain lantaran takut mengikuti rapid test. Padahal, sebanyak 55 warga tersebut telah dijadwalkan untuk menjalani rapid test oleh petugas medis Puskesmas Malawei.

Warga yang diminta menjalani rapid test tersebut diketahui sempat berkontak dengan pasien positif COVID-19 dari klaster Ijtima Ulama Gowa. Namun saat petugas datang, hanya tersisa 24 warga yang bersedia dites. Sedangkan sisanya telah kabur ke pulau lain lantaran takut.

”Ada sebagian warga yang sudah meninggalkan rumah mereka,” kata Kepala Puskesmas Malawei Alviana Martaudang seperti dilansir dari Kompas, beberapa waktu lalu. “Mereka pergi ke salah satu pulau untuk menghindar dari petugas medis agar tidak mengikuti rapid test.

2. Tawarkan uang damai

Seorang perempuan di Cianjur, Jawa Barat menolak menjalani rapid test saat berada di Pasar Induk Pasirhayam, Cianjur. Perempuan ini bahkan sampai memohon dan merajuk kepada petugas medis agar tidak melakukan rapid test pada dirinya.

Namun, usahanya memohon tidak membuahkan hasil. Tak ingin menyerah, perempuan ini lantas menawarkan uang damai kepada petugas medis. Ia juga dengan gigih menegaskan jika dirinya sehat dan bersedia membayar uang demi menghindari rapid test.

”Tidak mau, Pak. Saya sehat, kok,” tegas perempuan yang merupakan warga Gekrong, Cianjur seperti dilansir dari Kompas. “Pak, kalau harus bayar, berapa?”

Mendengar hal tersebut, petugas medis hanya tertawa santai. Mereka akhirnya dengan sabar memberikan pengertian dan penjelasan mengenai rapid test agar wanita itu tidak takut. Beruntung, perempuan tersebut akhirnya setuju menjalani rapid test.


3. Undangan rapid test Dishub ditolak ratusan ojol

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Salatiga menunjukkan niat baik dengan mengundang mitra kerja mereka untuk melakukan rapid test. Pihak Dishub mengundang total sebanyak 200 orang.

Tak disangka, hanya 5 dari 200 orang yang datang dalam undangan rapid test. Padahal, petugas telah menunggu dua jam untuk rapid test gratis. Namun, tak banyak yang datang dan memanfaatkan fasilitas itu.

”Dari daftar hadir terpantau tidak sampai lima pengemudi ojol yang memenuhi undangan dan menjalani rapid test," kata Kepala Dishub Kota Salatiga, Sidqon Effendi. “Mungkin ketidakhadiran pengemudi ojol mengikuti rapid test gratis tersebut karena takut.”

4. Puluhan PNS bolos kerja

Puluhan PNS lebih di Kabupaten Buru, Maluku lebih memilih untuk membolos kerja daripada harus menjalani rapid test. Mereka kompak tidak masuk tanpa memberikan keterangan apapun. Bahkan tak hanya staf saja, Kepala BKD Buru juga ikut membolos.

“Hanya 37 pegawai yang masuk kantor untuk jalani rapid test,” kata Nani saat dihubungi dari Ambon, seperti dilansir dari Kompas pada Jumat (5/6). “Sisanya tidak masuk. Kepala BKD juga tadi tidak ada.”

Rapid test tersebut digelar setelah salah satu pegawai di BKD dinyatakan positif virus corona. Selain itu, hasil rapid test sebelumnya juga menyatakan jika tiga PNS dinyatakan reaktif.

5. Pedagang pasar menangis ketika jalani rapid test

Seorang pedagang berinisial S di Pasar Wates, Kulon Progo langsung menangis saat mengikuti rapid test yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Bukan takut pada jarum suntik, pedagang itu terisak-isak karena ketakutan dengan hasil rapid test-nya menunjukkan reaktif COVID-19.

”Takut jika hasilnya positif bagaimana?” tanya S seperti dilansir dari Tribun Jogja, beberapa waktu lalu. “Virus corona itu menakutnya, makanya deg-degan.”

Kehidupan sehari-harinya sebagai seorang pedagang yang membuatnya begitu ketakutan jika dinyatakan positif virus corona. Apalagi, setiap hari ia selalu menjalin kontak dengan banyak orang saat berjualan.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait