Waspada Pasien Corona Punya Risiko Kena DBD, Kemenkes Beri Penjelasan
Nasional

Waspada wabah demam berdarah (DBD) yang mengancam pasien virus corona (COVID-19), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lantas memberikan penjelasan terkait persoalan ini.

WowKeren - Indonesia mulai melaporkan panen kasus demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melaporkan adanya 68 ribu kasus DBD di wilayah Indonesia yang melaporkan kasus virus corona.

Kemenkes lantas menjelaskan jika DBD turut mengancam pasien virus corona. Apalagi, saat ini baik virus corona dan DBD sama-sama belum ditemukan obat dan vaksinnya sehingga cukup membahayakan.

Kemenkes menganjurkan jika hal terbaik yang bisa dilakukan masyarakat adalah melakukan tindakan pencegahan agar tidak terkena DBD ataupun COVID-19. Hal ini bisa dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk serta selalu disiplin melakukan protokol kesehatan COVID-19.

”Fenomena ini yang terjadi artinya memungkinkan untuk seseorang kalau dia terinfeksi COVID-19 dia juga dapat berisiko DBD,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia di YouTube BNPB, Senin (22/6). “Karena pada prinsipnya sama, DBD adalah suatu penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya.”

”Vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk,” sambungnya. “Dan sama-sama virus ini (antara COVID-19 dan DBD).”


Kemenkes lantas membandingkan situasi saat wabah DBD pertama menyerang Indonesia di tahun 1968 dengan pandemi virus corona saat ini. Tercatat, angka kematian dan infeksi DBD di tahun tersebut mencapai 50 persen. Semakin lama, Indonesia pun berhasil menangani DBD dengan menurunkan kasus infeksi hingga di bawah 1 persen.

”DBD ini sendiri bahwa sebenarnya di awalnya ada di Indonesia pada 1968. Dan pada waktu itu sama dengan situasi COVID-19 saat ini angka kematian dan angka kesakitannya 50 persen,” jelas Siti. “Dan kita (kini) sebenarnya sudah bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian itu bahkan angka kematian yang tadinya 50 persen bisa turun sampai di bawah 1 persen.”

Lebih lanjut Siti menyatakan jika Kemenkes saat ini menghadapi tiga tantangan dalam menangani DBD di tengah pandemi virus corona. Dari kurangnya kegiatan juru pemantau jentik (Jumantik), hingga beberapa bangunan perkantoran dan sekolah yang mulai kosong semenjak WFH (work from home) hingga berpotensi meningkatkan sarang nyamuk.

”Pertama adalah karena kegiatan Jumantik menjadi tidak optimal karena ada social distancing,” jelas Siti. “Yang kedua adalah karena bangunan atau banyak hotel karena kita melaksanakan kebijakan kerja dan belajar dari rumah otomatis tiga bulan lalu gedung-gedung ini banyak sekali yang ditinggal termasuk musala dan tempat ibadah.”

”Sehingga ini yang menjadi tantangan kita, dan yang ketiga karena masyarakat banyak berada di rumah,” sambungnya. “Sehingga penting kita lakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) itu di rumah jadi ini yang menjadi utama tentunya.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait