Kasus COVID-19 Masih Tinggi, Epidemiolog Beri Saran Ini Soal Penerapan New Normal Surabaya Raya
Nasional

Epidemiolog FKM Universitas Airlangga Surabaya menyebutkan Attack Rate (AR) pada masa PSBB transisi Surabaya Raya masih tinggi. Ia pun memberi saran untuk penerapan normal baru di masa mendatang.

WowKeren - Surabaya hingga saat ini memasuki masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. Namun, Attack Rate (AR) COVID-19 di Surabaya meningkat tajam pada masa ini.

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Surabaya, Dokter Windhu Purnomo menyebutkan menjelang berakhirnya PSBB, AR Kota Surabaya berada di angka 90 per seratus ribu penduduk. Artinya, setiap 100 ribu penduduk ada 90 orang terjangkit COVID-19 di Surabaya.

“Dalam waktu dua minggu pasca PSBB berakhir, attack rate di Surabaya ini naik sebesar 75 persen," kata Windhu, Senin (22/6). "Dari 90 ke 150,7 per seratus ribu penduduk."

Ini cukup mengkhawatirkan, karena pada angka AR 90 per seratus ribu penduduk saja, sudah paling tinggi secara nasional. “DKI Jakarta memang kasusnya tertinggi di Indonesia. Tetapi AR-nya hanya 70, saat itu. Masih kalah sama Surabaya yang waktu itu 90. Sekarang malah dua kali lipat dalam waktu dua minggu masa transisi,” lanjutnya.

Windhu menjelaskan, AR menjadi salah satu indikator besaran risiko penduduk di suatu wilayah terinfeksi COVID-19. Makin tinggi AR di suatu wilayah maka makin tinggi resiko masyarakat di wilayah itu terinfeksi.


“Kalau AR-nya 150,7, artinya setiap 100 ribu penduduk ada 150 orang tertular. Padahal data ini saya prediksi masih seperti gunung es," jelasnya. "Di bawah itu masih lebih banyak lagi (yang belum terdeteksi)."

Tidak hanya di Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik pun mengalami kenaikan angka AR walaupun tidak setajam Kota Surabaya. AR di Sidoarjo saat ini 48,7 dan gresik 30,9 per seratus ribu penduduk.

Windhu kemudian menegaskan, kriteria suatu daerah dinyatakan mampu mengendalikan angka penularan COVID-19 adalah ketika angka transmisi penularan di bawah 1 bisa konsisten selama 14 hari berturut-turut. Kriteria penentuan kemampuan sebuah daerah mengendalikan transmisi penularan ini ditetapkan baik oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Bappenas. Surabaya Raya belum memenuhi.

“Setelah 14 Hari berturut-turut di bawah satu baru kita siap untuk new normal," paparnya. "Jadi kita harus menunggu setidaknya sampai 1 Juli (terhitung mulai 17 Juni ketika angka transmisi di bawah 1)."

Sebagaimana diketahui, Senin ini adalah hari terakhir masa transisi menuju new normal di Surabaya Raya. Windhu menyarankan, masa transisi diteruskan sampai awal Juli dengan sanksi lebih tegas.

“Jangan seperti kemarin. Perlu ada pengendalian kepatuhan protokol kesehatan,” katanya. “Kalau sudah New Normal, protokol kesehatan tetap diawasi ketat. Tidak cul-culan.”

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait