Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menilai CFD bukanlah hal yang prioritas untuk dilonggarkan saat PSBB transisi.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 24 Juni 2020 - 15:43 WIB
WowKeren - Kebijakan Pemerintah Provinsi Jakarta untuk membuka kembali aktivitas car free day menyisakan pro kontra. Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra pun menyayangkan hal ini.
Menurutnya, pembukaan CFD berpotensi menjadi klaster baru penularan virus corona. Sedangkan di lain sisi, CFD ini bukanlah sesuatu yang prioritas saat pelonggaran PSBB.
"Jadi menurut saya CFD ini bukanlah sesuatu yang prioritas," kata Hermawan dilansir Okezone, Rabu 924/6). "Saya juga kaget kenapa Pemprov DKI membuka hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan PSBB."
Dengan dibukanya CFD seolah-olah memberikan kebebasan pada masyarakat untuk berolah raga secara massal. Padahal, hal-hal ini tentu bertolak belakang dengan upaya pengendalian penularan COVID-19 yang selama ini dilakukan.
"Itu adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan pengendalian COVID-19," terangnya. Terkait pelonggaran saat PSBB transisi, ia meminta agar Pemprov mempertimbangkan lagi sektor mana saja yang benar-benar prioritas untuk dilonggarkan. Sektor prioritas yang dimaksud yakni yang memainkan peran untuk menggerakkan roda perekonomian.
"PSBB ini bentuk intervensi longgar, jangan dilonggarkan lagi tempat-tempat yang sudah ada pelenturan," lanjut Hermawan. "Kalau pun ada, itu prioritasnya kebutuhan dasar dan ekonomi dasar, bukan semua bidang. Apalagi sampai CFD."
Sementara itu, ia menilai jika Pemprov DKI tidak seharusnya melonggarkan PSBB terlebih dahulu. Pasalnya, penyebaran COVID-19 di ibu kota masih belum sepenuhnya menurun namun masih bersifat fluktuatif.
Ia berpesan agar pemerintah tidak gegabah dalam memberikan pelonggaran. Karena hal itu justru akan membuat perjuangan melawan COVID-19 selama 3 bulan ini menjadi tidak bermakna.
"Sebenarnya DKI belum tepat, dan belum terkendali kasusnya. Sehingga Pemprov harus bijak menyikapinya," lanjut Hermawan. "Jangan sampai perjuangan 3 bulan itu menjadi sia-sia dengan pembukaan yang terlalu gegabah dan tergesa-gesa."
Diketahui, dari CFD pada minggu (21/6) lalu, sebanyak 5 orang dinyatakan reaktif COVID-19 pasca menjalani rapid test. Tak ayal jika hal ini menuai kritikan.
.
(wk/zodi)