RS Bandung Ini Andalkan Terapi Plasma Konvalesen Untuk Sembuhkan Pasien Corona, Efektif?
Nasional

Sebuah rumah sakit di Bandung mengaku mengandalkan terapi plasma konvalesen untuk membantu menyembuhkan pasien virus corona (COVID-19). Apakah hasilnya efektif?

WowKeren - Setiap rumah sakit di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menangani pasien virus corona (COVID-19). Seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang mengandalkan terapi plasma konvalesen atau donor plasma darah untuk menyembuhkan pasien positif COVID-19.

Terapi dengan menggunakan donor plasma darah sendiri telah dilakukan di sejumlah rumah sakit Indonesia. Plasma darah tersebut didapatkan dari pasien yang telah dinyatakan sembuh dari virus corona.

Penggunaan plasma darah dari penyintas COVID-19 dipercaya dapat memberikan anti virus bagi pasien positif, sehingga dapat menurunkan angka kematian dan komplikasi. Pasien yang awalnya positif dan bergejala berat hingga kritis dapat tertolong dengan pemberian terapi plasma konvalesen.

Ketua Koordinator Terapi Plasma Konvalesen RSHS, Ruswana Anwar lantas menjelaskan efektivitas plasma darah dalam menyembuhkan pasien COVID-19. Menurutnya, pengobatan ini dapat meningkatkan peluang hidup pasien virus corona yang kritis dan menggunakan ventilator.

”Jadi komvalesen itu artinya sembuh, pasien yang dulunya positif lalu sembuh memiliki banyak zat anti melawan virus,” jelas Ruswana seperti dilansir dari Detik, Jumat (26/6). “Biasanya kita periksa 14 hari atau 28 hari setelah sembuh, kadarnya (zat anti virus) masih sangat tinggi.”

”Nah kalau kita ambil nyumbang plasma darah kuning, kalau kita sumbangkan kepada pasien yang gejala berat atau kritis yang menggunakan ventilator maka sebagian besar penelitian di Wuhan, Amerika, dan Eropa itu angka meninggalnya berkurang,” sambungnya. “Lama rawat di rumah sakit juga berkurang, dan komplikasi organ pada jantung dan ginjal berkurang.”

Ruswana mengatakan jika plasma kompalisen mengandung zat antibodi yang melawan virus. Hal ini dapat membantu penderita virus corona dengan gejala berat untuk melawan komplikasi organ.


Sejauh ini, penelitian menemukan jika virus corona yang menginfeksi seseorang telah membuat 80 persen pasien memiliki gejala ringan dan tanpa gejala. Sedangkan 20 persen lainnya dikategorikan memiliki gejala COVID-19. Dari 20 persen tersebut, sebanyak 5 persen di antaranya kritis dan harus menjalani perawatan dengan menggunakan alat bantu pernapasan mekanik (ventilator).

Pasien yang masuk golongan 5 persen ini dinilai cukup terbantu dengan menggunakan terapi plasma konvalesen. Meski demikian, ada sejumlah prosedur yang perlu dipenuhi jika ada penyintas virus corona yang ingin menyumbangkan plasma darahnya.

Pasien yang boleh menyumbang plasma darahnya harus benar-benar dipastikan telah sembuh dan mendapatkan swab test negatif dua kali berturut-turut. Selain itu, pendonor juga harus dicek kondisi kesehatan tubuh secara umum dan dipastikan tidak ada potensi penyakit menular lainnya. Sehingga terapi ini bisa terlaksana dengan baik dan aman.

”Prosedurnya, pasien harus sudah sembuh dari COVID-19 minimal 14 sampai 28 hari. Sembuh itu pada waktu pulang negatif dua hari berturut-turut,” kata Ruswana. “Umurnya harus diatas 18 sampai 65 tahun, ketiga, bebas dari infeksi menular lewat darah (HIV, Aids, Hepatitis B dan C, dan penyakit menular sivilis) berat badan di atas 48 dan tes kesehatan umum.

”Pada pelaksanaan, pasien duduk agak sedikit nyender dan sebelahnya ada mesin mengambil darah seperti pada umumnya,” sambungnya. “Tapi mesin apheresis ini akan memisahkan butiran merah dan cairan kuning.

Seluruh prosedur berlangsung selama 45 menit. Kemudian dari satu pendonor sekitar 400 cc cairan plasma darah yang diambil bisa disimpan 40 hari atau bisa disimpan selama 1 tahun dengan suhu minus 18 derajat celcius. Plasma darah ini akan diberikan 200 ml hari pertama dan hari ketiga untuk satu pasien COVID-19.

Menurut Ruswana, dengan melakukan donor plasma konvalesen maka pendonor sudah menyelamatkan satu jiwa penderita COVID-19 dan membantu rumah sakit dalam menangani wabah pandemi ini. Hal ini sangat membantu mengingat vaksin virus corona masih belum ditemukan.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait