INACA menyebut Jika memang bisnis penerbangan tidak menunjukkan geliat positif selama bulan Juli maka bukan tidak mungkin ancaman PHK akan benar-benar terjadi.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 01 Juli 2020 - 08:26 WIB
WowKeren - Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi COVID-19 rupanya masih menghantui industri tanah air, termasuk salah satunya industri penerbangan. Seperti diketahui, industri penerbangan sempat lesu selama masa pandemi karena mobilitas masyarakat menurun drastis.
Ancaman PHK di bisnis penerbangan Tanah Air disampaikan oleh Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto. Bayu mengatakan jika PHK massal di industri penerbangan Indonesia yang sesungguhnya belum benar-benar terjadi.
"Setahu saya sebagai besar hanya yang kontrak," kata dia dilansir CNBC Indonesia, Rabu (1/7). "Yang kontraknya habis nggak diperpanjang lagi."
Hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh maskapai Lion Air dan Garuda Indonesia Group. "Yang terjadi sekarang kalau dia karyawan kontrak di bulan bulan ini itu nggak diperpanjang," katanya.
Meski demikian, bukan berarti karyawan tetap sudah bisa bernapas lega. Bayu mengatakan mereka belum sepenuhnya aman dari ancaman PHK ini sebab maskapai masih harus melihat bagaimana perkembangan bisnis penerbangan untuk ke depannya.
Jika memang bisnis penerbangan tidak menunjukkan geliat positif selama bulan Juli maka bukan tidak mungkin ancaman PHK akan benar-benar terjadi. "Ya kita lihat di bulan Juli kalau nggak bergerak sebetulnya potensi terhadap PHK akan terjadi," tuturnya.
Babak belur industri penerbangan tak hanya terjadi di Tanah Air. Pandemi COVID-19 turut melumpuhkan sektor industri penerbangan global. Sebut saja Qantas Airways. Maskapai asal Australia ini berencana mengurangi 20 persen karyawannya. Sementara itu hampir 50 persen karyawannya diliburkan tanpa dibayar sampai kondisi penerbangan kembali normal.
Sementara itu di Indonesia sendiri, bisnis penerbangan baru menggeliat seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial. Kendati demikian, kondisi ini memang sulit berubah dalam waktu yang sebentar.
"Ini kan kuncinya di kesehatan. Kalau vaksin ketemu ya bagus. Kalau masih ada belum ketemu vaksin berarti kan harus dengan protokol kesehatan ya itu akan membatasi pertumbuhan bisnisnya," terang Bayu. "Karena enggak ada penumpang. Penumpangnya berkurang drastis, bisa 50 persen balik lagi saja sudah luar biasa."
(wk/zodi)