DPRD Jatim Ungkap Selisih Data Tenaga Kesehatan yang Meninggal Karena COVID-19
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur mengungkap adanya selisih data tenaga kesehatan yang meninggal karena COVID-19. Selisih data tersebut milik Dinas Kesehatan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim.

WowKeren - Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Hikmah Bafaqih mengatakan adanya selisih data tenaga kesehatan yang meninggal. Adapun data yang berselisih tersebut adalah milik Dinas Kesehatan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim.

Ia mengatakan jika selisih data itu muncul dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi E di Gedung DPRD Jatim Surabaya, Senin (29/6) lalu yang yang dihadiri oleh Perwakilan Dinkes Jatim dan IDI Jatim. Pada data Dinas Kesehatan Jatim menunjukkan, hanya ada delapan orang tenaga medis yang meninggal akibat COVID-19.

Sedangkan IDI Jatim mendata, sampai 29 Juni kemarin, jumlahnya mencapai 22 tenaga medis. “Dalam pertemuan itu, selisih datanya memang jauh antara IDI Jatim dan Dinkes Jatim,” kata Hikmah, Rabu (1/7).

Politisi PKB itu menyayangkan perbedaan data yang terjadi. Menurutnya, ada komunikasi yang terhambat antarlembaga di bidang kesehatan di Jawa Timur.

Komisi E pun mendorong Dinkes Jatim bersama IDI untuk saling mengintegrasikan data itu. Sebab, data ini berkaitan dengan insentif maupun uang duka dari pemerintah.


“Bayangkan keluarga para nakes kalau tak terdata sebagai nakes," ujarnya. "Mereka tak mendapatkan uang duka (santunan) yang menjadi bentuk apresiasi atas jasa mereka."

Berdasarkan penjelasan Dinkes Jatim dalam rapat dengar pendapat itu, selisih data ini terjadi karena Dinkes Jatim hanya menyesuaikan kasus kematian berdasarkan data rumah sakit dan laboratorium. “Ternyata, Dinkes selama ini mengandalkan data dari rumah sakit atau laboratorium. Kenyataannya, banyak nakes yang meninggal tak dilaporkan sebagai nakes,” terangnya.

Menurut data IDI Jatim hingga Senin kemarin mencatat sebanyak 76 dari total 25 ribu tenaga kesehatan di Jatim dinyatakan positif COVID-19. Itupun belum termasuk di Surabaya, karena IDI Jatim mengaku kesulitan untuk mengakses data jumlah tenaga kesehatan yang meninggal akibat COVID-19 di Surabaya.

Adapun data rinci terkait kematian tenaga kesehatan di Jatim selain di Surabaya menurut IDI adal sebagai berikut. Dokter yang meninggal ada sebanyak 10 orang.

Sedangkan untuk perawat ada 10 orang perawat (hari ini ada satu lagi perawat yang meninggal) dari 137 perawat yang terjangkit COVID-19. Untuk bidan dari 53 orang yang dinyatakan terjangkit COVID-19 sementara 2 orang lainnya dinyatakan meninggal.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts