Puluhan Pekerja Media Massa di Jatim Positif Corona, AJI Soroti Kegiatan  Pejabat
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Berdasarkan hasil swab PCR yang dirilis pada 11 Juli 2020 lalu, 54 karyawan RRI Surabaya dinyatakan positif corona. Lalu tiga orang karyawan Metro TV Surabaya juga dinyatakan positif corona.

WowKeren - Puluhan karyawan di tiga kantor media di Surabaya, Jawa Timur, dilaporkan positif terjangkit virus corona (COVID-19). Tiga kantor media yang dimaksud adalah TVRI, Metro TV, dan RRI surabaya.

Berdasarkan hasil swab PCR yang dirilis pada 11 Juli 2020 lalu, 54 karyawan RRI Surabaya dinyatakan positif corona. Lalu tiga orang karyawan Metro TV Surabaya juga dinyatakan positif corona.

Selain itu, ada dua orang staf TVRI Jatim yang dilaporkan meninggal dunia sebelum hasil swab PCR mereka dirilis. Belakangan, TVRI Jatim juga melaporkan seorang karyawan lain yang dinyatakan positif COVID-19.

Menanggapi hal ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya pun turut mengungkapkan rasa keprihatinannya. "Pertama, kami prihatin dengan banyaknya pekerja media dan jurnalis yang terpapar COVID-19," tutur Ketua AJI Surabaya, Miftah Faridl, dilansir CNN Indonesia pada Rabu (15/7).

Miftah menilai ada tiga pihak yang perlu dievaluasi, yakni institusi pemerintahan, perusahaan media dan jurnalis itu sendiri. Adapun evaluasi tersebut berkaitan dengan penerapan protokol keselamatan peliputan.

Menurut Miftah, AJI Surabaya sendiri telah mengirimkan surat kepada Pemerintah Provinsi Jatim dan Pemerintah Kota Surabaya sejak Maret 2020 lalu. Surat rekomendasi yang dikirimkan AJI Surabaya tersebut mengingatkan soal pentingnya protokol keselamatan peliputan bagi jurnalis.


"AJI merespons berbagai aktivitas dari para pejabat di Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim," kata Miftah. "Terkait pengabaian mereka terhadap protokol keselamatan peliputan jurnalis."

Lebih lanjut, Miftah mengakui bahwa masukan-masukan AJI Surabaya sudah sempat dijalankan oleh sejumlah instansi pemerintah. Sayangnya, hal tersebut hanya berjalan untuk beberapa waktu saja. Miftah menyoroti beberapa instansi pemerintah yang ternyata malah makin rajin menggelar acara seremonial dan mengundang banyak kerumunan pejabat dan wartawan untuk datang.

"Namun kalau AJI lihat ada banyak sekali hal-hal yang masih muncul pengabaian, misalnya banyaknya acara seremonial yang diselenggarakan para pejabat ini," terang Miftah. "Ada banyak sekali pemberitaan soal seremonial, apa untungnya bagi publik, apa publik teredukasi dengan gaya pejabat yang narsis, yang ingin setiap hari masuk di layar TV, di koran, di media, menunjukkan mereka seolah-olah sudah bekerja dengan baik."

Tak hanya dari instansi pemerintah, otoritas perusahaan media juga perlu dievaluasi. Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, Miftah mengungkapkan bahwa banyak jurnalis yang masih terus ditugasi kantor meskipun objek yang diliput mengabaikan protokol keselamatan.

"Mereka tidak ada pilihan ketika harus melakukan peliputan, entah itu peliputan yang melanggar protokol keselamatan, atau liputan tak penting yang sifatnya seremonial," ungkap Miftah. "Dia tidak memiliki kuasa yang cukup terhadap dirinya dan keselamatannya, jadi tidak didukung oleh perusahaannya."

Oleh sebab itu, AJI mendorong perusahaan media untuk membuat dan menerapkan protokol keselamatan dalam peliputan. Baik bagi jurnalis di lapangan maupun karyawan di kantor.

Di sisi lain, AJI juga menemukan banyak sekali jurnalis yang mengabaikan protokol keselamatan peliputan. Miftah berharap agar para jurnalis menyadari bahwa virus corona sudah sangat dekat dengan profesi mereka.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts