Nadiem Sahkan ‘Nikah Massal’, Jadi Jalan Keluar Siswa Vokasi Ke Dunia Industri
Nasional
Gebrakan Mendikbud Nadiem

Mendikbud Nadiem Makarim resmi meluncurkan ‘nikah massal’ bagi pelajar. Program tersebut dinilai bisa menjadi jalan keluar siswa vokasi untuk terjun ke dunia industri.

WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim resmi meluncurkan program Forum Pengarah Vokasi. Program ini dinilai Nadiem sanggup mempercepat “nikah massal” antara lulusan pendidikan vokasi dengan dunia perindustrian.

Penamaan nikah massal sendiri merupakan penyatuan antara sekolah vokasi dengan industri. Seperti yang diketahui, sekolah vokasi seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) selama ini memang tak lepas dengan industri.


”Dia (forum ini) akan mempercepat atau mengakselerasi pernikahan massal,” kata Nadiem dalam acara Gelar Wicara Peluncuran Forum Pengarah Vokasi melalui YouTube Kemendikbud RI, Rabu (15/7). “(Pernikahan massal) antara industri dan unit pendidikan kita.”

Nadiem lantas menjelaskan tentang Forum Pengarah Vokasi. Forum ini dinilainya sanggup terus berkembang mengikuti dengan perkembangan dunia industri. Selain itu, forum tersebut juga akan memberikan Kemendikbud pandangan dan masukan dalam meningkatkan sistem pendidikan vokasi di Tanah Air.

”Forum ini dibentuk untuk menjadi jembatan-jembatan antara industri, masing-masing sektor industri dan Kemendikbud, Ditjen Vokasi, dan unit Pendidikan Vokasi,” jelas Nadiem. “Forum pengarah vokasi ini adalah suatu forum yang dinamis.”

”Yang akan senantiasa terus berkembang dengan begitu banyaknya variasi daripada sektor-sektor industri di Indonesia yang terus berubah,” sambungnya. “Dan dia akan memberikan 1 nasihat dan rekomendasi konkret bagi Kemendikbud untuk bagaimana mengubah sistemnya.”

Dalam kesempatan itu, Nadiem juga menjelaskan mengapa ia memberi analogi ”pernikahan massal” pada forum tersebut. Menurutnya, pernikahan yang dimaksud merujuk pada terjalinnya kerja sama yang dilakukan industri terhadap lulusan vokasi melalui rekrutmen pekerja.

“Pernikahan artinya sah antara itu perusahaan dan unit pendidikan vokasi kita permanen menikah,” terang Nadiem. “Artinya apa? Sah itu artinya sampai dengan anak-anak itu lulus, ada perjanjian kerja sama sampai rekrutmen.”

”Karena kalau sampai anak-anak itu akhirnya tidak diambil oleh industri dan langsung bisa mendapat pekerjaan,” sambungnya. “Itu artinya pernikahan itu bukan pernikahan yang serius, bukan pernikahan yang sah.”

Nadiem meyakini jika program yang diluncurkannya ini dapat sukses. Ia tidak hanya menyoroti jumlah lulusan secara kualitatif, namun posisi hingga gaji awal yang diterima lulusan juga bisa menjadi kunci kesuksesan “pernikahan massal” tersebut.

”Kalau kita mau mengukur kesuksesan program ini, apakah lulusannya dapat posisi di industri itu dan apakah gaji atau starting salary dia layak, itu kuncinya,” ungkap Nadiem. “Kalau industri tidak semangat melakukan rekrutmen itu, itu akhir artinya unit pendidikannya gagal untuk melaksanakan quality improvement-nya dia.”

”Dan juga kalau industrinya tidak terlibat dari awal untuk melakukannya artinya industrinya juga gagal tidak memberikan resources,” sambungnya. “Atau atensi yang cukup untuk bisa mentransformasi kurikulum pengajaran dan juga sarana-prasarana dalam industri itu.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts