Adapun survei tersebut dilakukan terhadap 1.200 responden dengan pengambilan data yang dilakukan melalui sambungan telepon selama rentang waktu 13-16 Juli 2020
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 22 Juli 2020 - 10:26 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo alias Jokowi telah melibatkan Menteri Badan Usaha Milik negara (BUMN) Erick Thohir dalam Komite Kebijakan atau Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19. Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi ikut menanggapi hal ini.
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Jokowi tersebut tak lepas dari rendahnya kepercayaan publik terhadap Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Kendati demikian, ia mengaku tak tahu persis alasan Jokowi memilih Erick. Namun yang jelas, ia menyebut jika kepercayaan publik terhadap Menkes hanya berada di angka 38,9 persen selama bulan ini.
"Saya tidak tahu persis kenapa Erick, tapi yang jelas saya bicara sesuai data saja," kata Burhan dalam rilis survei secara virtual, Selasa (21/7). "Data kita memang menunjukkan lemahnya trust publik terhadap Menteri Kesehatan."
Adapun survei tersebut dilakukan terhadap 1.200 responden dengan pengambilan data yang dilakukan melalui telepon. Survei tersebut dilakukan dalam rentang waktu 13-16 Juli dengan toleransi kesalahan kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Burhan juga mengungkap hasil surveinya yang dilakukan bersama akademisi pada Mei lalu. Survei ini dilakukan di tiga zona salah satunya DKI Jakarta yang telah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertama kali di RI. Lalu zona lain adalah wilayah yang tengah menerapkan PSBB dan juga tidak menerapkan PSBB.
Waktu itu, hasil survei menunjukkan jika kepercayaan publik di DKI terhadap Terawan hanya sekitar 20 persen. Sedangkan untuk wilayah lainnya yang menerapkan PSBB, kepercayaan publik terhadap Terawan hanya 35 persen.
"Mengapa kemudian Pak Erick yang dapat tugas, satu kaitannya dengan ekonomi, jelas," sebut Burhan. "Bukan Pak Terawan karena untuk mengurusi masalah kesehatan saja masih 'kerja keras'."
Burhan menilai jika ketidakpercayaan publik kian menguat terhadap Terawan terutama selama masa pandemi. Ditambah dengan pernyataan Terawan yang dianggap kontroversional, seperti serapan anggaran rendah karena pasien corona sedikit.
(wk/zodi)