Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, investasi Singapura mencapai USD 2 juta atau sebesar 28,8 persen dari total penanaman modal asing (PMA).
- Bertilia Puteri
- Rabu, 22 Juli 2020 - 17:17 WIB
WowKeren - Pertumbuhan ekonomi Singapura dilaporkan anjlok hingga 41,2 persen pada Kuartal II 2020. Kontraksi yang dialami ini praktis menjadikan Singapura terjun ke dalam jurang resesi untuk pertama kalinya sejak 2009 silam.
Meski baru saja memasuki resesi, investasi asing atau penanaman modal asing (PMA) dari Singapura mendominasi Indonesia. Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, investasi Singapura mencapai USD 2 juta atau sebesar 28,8 persen dari total PMA.
Bahlil lantas menjelaskan mengapa investasi Singapura di Indonesia masih tinggi meski pertumbuhan ekonomi mereka anjlok. Menurut Bahlil, Singapura masih menjadi pintu masuk bagi negara lain untuk menanamkan modal di Indonesia meski mereka kini memasuki jurang resesi.
"Pasti banyak teman-teman bertanya 'kok Singapura kuartal keduanya (ekonomi) minus 41%, kok realisasi investasinya masih tinggi?' Saya ingin menyampaikan bahwa dana yang masuk dari Singapura itu bukan hanya Singapura, itu jadi hub saja itu," jelas Bahlil pada Rabu (22/7) hari ini. "Singapura itu adalah hub untuk beberapa negara yang melakukan investasi di Indonesia tapi lewat Singapura."
Setelah Singapura, Hong Kong menjadi investor asing terbesar kedua dengan jumlah investasi mencapai USD 1,2 juta atau sebesar 17,2 persen. Setelah itu ada Tiongkok dengan jumlah investasi mencapai USD 1,1 juta atau sebesar 16,8 persen, Jepang dengan USD 0,6 juta atau sebesar 9 persen, Korea Selatan dengan USD 0,6 juta atau sebesar 8,1 persen, dan negara lainnya mencapai USD 1,3 juta atau sebesar 20,1 persen.
"Di kuartal pertama yang masuk 5 besar itu Malaysia," ungkap Bahlil. "Tapi kemudian digeser oleh Korea Selatan."
Adapun total PMA di Indonesia dalam kurs rupiah pada kuartal II tahun 2020 ini mencapai Rp 97,6 triliun atau sebesar 50,9 persen. Sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 94,2 triliun atau sebesar 49,1 persen. Dengan demikian, jumlah PMA lebih tinggi dibanding PMDN pada kuartal kedua tahun ini.
"Kalau di kuartal pertama kemarin itu PMDN lebih tinggi ketimbang PMA," pungkas Bahlil. "Karena ita tahu Januari, Februari, Maret itu dunia internasional syok karena persoalan dimana China dan beberapa negara lain baru puncak-puncaknya pandemi (virus corona/COVID-19)."
(wk/Bert)