Pesut Mahakam sangat sensitif terhadap aktivitas manusia yang menimbulkan kebisingan dan gangguan. Seperti misalnya aktivitas kapal dan alat tangkap ikan seperti setrum listrik
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 24 Juli 2020 - 12:22 WIB
WowKeren - Nama satwa pesut Mahakam akhir-akhir ini ramai menjadi perbincangan usai video viral di media sosial. Pesut Mahakam sering disebut sebagai lumba-lumba air tawar.
Sayangnya, populasi pesut Mahakam kian mengkhawatirkan. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Sekar Mira.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), status ikan ini adalah critically endangered, satu langkah sebelum punah. Status ini menunjukkan jika populasi satwa tersebut amat sangat sulit untuk dipertahankan.
"Sebenarnya status berdasarkan Uni Internasional untuk Konservasi Alam red list adalah critical endangered atau kritis," kata Sekar dilansir CNN Indonesia, Jumat (24/7). "Artinya angka populasinya sudah sulit dipertahankan."
Sementara itu, Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mencatat jika populasi ikan ini hanya tinggal puluhan ekor saja. "Terakhir hanya tersisa sekitar 80 ekor pesut di ekosistem Sungai Mahakam," imbuhnya.
Habitat pesut ini kian terancam seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia. Sekar menyebut jika pesut Mahakam sangat sensitif terhadap aktivitas manusia yang menimbulkan kebisingan dan gangguan. Seperti misalnya aktivitas kapal dan alat tangkap ikan seperti setrum listrik.
Sehingga pesut harus bergeser ke hulu sungai. Yang mana hal ini akan mempengaruhi tingkat ketersediaan ikan-ikan yang menjadi makanannya.
"Di hulu yang sarat aktivitas tambang dimana perahu angkut muat lalu-lalang akan menyebabkan pergeseran habitat pesut makin ke arah hulu," kata Sekar. "Tentu dengan pergeseran ini ada perbedaan parameter perairan dan komposisi mangsa yang tersedia."
Tak cukup sampai di situ, sampah-sampah di Sungai Mahakam turut berimbas pada kondisi pesut. Sekar menyebut jika tak jarang sampah-sampah di Sungai turut ditelan oleh pesut. "Belum limbah yang bisa secara langsung mempengaruhi keselamatan pesut," tegasnya.
Bahkan pihaknya pernah mendapati popok yang memblokir saluran pencernaan ikan malang itu. Popok ini kian lama kian membesar karena terisi air.
"Ada pesut yang mati terdampar ketika dinekropsi (diotopsi) Ternyata ada popok anak yang memblok saluran cernanya," lanjut Sekar. "Parahnya popok makin terisi air makin besar dan menyumbat."
(wk/zodi)